EQ for Leader Abbalove Ministries

Pada tanggal 6 & 27 Agustus, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi diundang untuk memberikan workshop Kecerdasan Emosi (EQ) kepada sekitar 17 leader dari Abbalove Ministries wilayah Jakarta Barat. Selama 2 hari, Josua Iwan Wahyudi memberikan tips-tips EQ untuk mampu mengelola emosi diri-sendiri dan mengelola emosi orang lain dalam kaitannya dengan leadership dan relationship.

Dalam kesempatan ini, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi juga banyak mengajak para leader untuk melakukan refleksi diri apakah selama ini sebagai leader justru kitalah yang berperan dalam menciptakan pola-pola emosi yang tidak sehat bagi orang lain. Karena itu dalam workshop ini, peserta diajarkan tips-tips untuk melacak pola emosi diri-sendiri terutama pola emosi yang destruktif dan menghambat.

Melalui berbagai tools aplikatif, peserta dalam waktu singkat diajak untuk memetakan akar-akar emosional apa yang membuat tidak produktif dan mereka diberikan langkah-langkah praktis untuk membentuk pola baru yang lebih konstruktif. Selain itu, peserta juga diajarkan berbagai tips untuk membaca dan mempersuasi kondisi emosi orang lain.


EQ Parenting IPEKA Sunter

Pada tanggal 23 Juli, Master Trainer EQ Indonesia dari ShifThink yaitu Josua Iwan Wahyudi diundang untuk memberikan seminar Kecerdasan Emosi (EQ) kepada para orang tua murid di Sekolah IPEKA Sunter. Dalam sesi seminar EQ kali ini, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi menyampaikan bagaimana proses terbentuknya pola-pola emosi seseorang. Salah satunya diakobatkan dari pola asuh dan lingkungan keluarga. Itu sebabnya dalam seminar EQ ini, Josua Iwan Wahyudi sebagai Master Trainer EQ Indonesia memberikan tips-tips bagaimana memberikan pendidikan EQ kepada anak-anak remaja.

Didukung oleh pengalaman beliau yang banyak mementor para remaja dan anak muda, Josua Iwan Wahyudi memberikan panduan-panduan bagaimana merawat Rekening Bank Emosi anak-anak zaman sekarang dan memotivasi para orang tua untuk selalu aware dan meng’upgrade tingkat kecerdasan emosi (EQ) mereka.

Dengan cara pembawaan yang fun, ringan, dan menyenangkan, seluruh peserta sangat terinspirasi dan mendapatkan tambahan knowledge yang sangat kaya.


Uang dan Emosi?

Banyak orang belum menyadari bahwa emosi sangat mempengaruhi semua pengambilan keputusan dan perilaku kita. Termasuk pola perilaku kita terhadap uang.

Kita seringkali berpikir bahwa logika dan pertimbangan intelektual yang membuat kita bisa mengambil keputusan. Namun, kenyataan membuktikan berbeda. Berapa kali Anda sudah tahu bahwa uang Anda sudah habis namun tetap saja memutuskan membeli Handphone baru? Berapa kali Anda tahu bahwa cicilan kartu kredit Anda sudah sulit terbayar namun tetap saja Anda menggesek untuk makan enak dan shopping?

Bukankah secara logika Anda sudah tahu untung-rugi dan semua konsekuensinya? Namun kenapa tetap saja keputusan akhir Anda adalah membeli?

Emosilah aktor di balik semuanya.

Setiap manusia memiliki pola emosi tertentu untuk situasi tertentu. Termasuk menghadapi uang. Pola emosional Anda terhadap uang bisa berbeda dengan pola emosional saya terhadap uang. Itu sebabnya, Anda akan menemukan orang-orang yang pelit habis dan di saat bersamaan ada pula orang-orang yang royal abis sampai uangnya habis melulu setiap akhir bulan. Ini bukan hanya sekedar kepribadian semata, ini sudah berkaitan dengan POLA EMOSIONAL!

Lalu, dari manakah semua pola emosi ini datang?

.

1. Menduplikasi pola sang figur
Kita cenderung berperilaku mirip seperti orang tua kita, termasuk dalam keuangan. Ini bukan berarti secara gen semuanya menurun, melainkan justru persentase yang lebih besar adalah, kita sejak kecil secara Subconcious, menduplikasi apa yang dilakukan orang tua kita. Karena saat kita kecil, orang tua adalah figur utama bagi kita. Bisa saja, orang tua tidak menjadi figur.

Bisa saja orang lain yang menjadi figur (kakek, guru, atau BAHKAN PEMBANTU!). Tergantung siapa yang menjadi figur utama waktu kita kecil dan bagaimana perilaku mereka terhadap uang, maka itulah yang cenderung Anda duplikasi dan semakin permanen saat Anda dewasa karena tidak ada yang mengintervensi pola itu.

.

2. Belajar dari pengalaman
Kejadian-kejadian di sepanjang hidup juga bisa membentuk pola emosi kita. Misalnya, Anda sudah menduplikasi orang tua Anda yang gemar menyumbang ke banyak orang, namun seiring perjalanan hidup, setiap Anda menyumbang justru Anda malah dikhianati oleh orang yang Anda tolong. Semakin emosional kejadiannya, semakin kuat efeknya. Dan kejadian emosional yang Anda alami bisa mengubah pola emosi Anda. Bisa jadi Anda mulai pelit dan tidak mau lagi menyumbang karena Anda merasa itu tidak ada gunanya.

Atau, misalnya suatu saat Anda baru membeli sebuah Handphone baru dan teman-teman Anda begitu kagum dan terpesona dengan Anda. Sejak saat itulah pikiran bawah sadar Anda berkata “wah, kalau punya barang-barang baru, kamu bisa dihormati dan diagung-agungkan!” Itu sebabnya mulai hari itu Anda jadi membabi buta mengejar trend terbaru. Apalagi kalau background emosional Anda kurang penghargaan, maka itu akan semakin menguatkan pola “boros” yang saya tulis di atas.

.

3. Belief yang ditanam berulang-ulang
Pola emosi juga terbentuk dari sebuah keyakinan yang ditanamkan berulang-ulang. Misalnya, kebetulan Anda bergabung di lingkungan teman-teman yang semuanya meyakini bahwa menabung itu percuma. Setiap hari Anda di’cekoki’ dengan keyakinan bahwa menabung itu percuma. Maka bukan tidak mungkin lama-kelamaan Anda pun juga meyakini bahwa menabung itu percuma, sehingga Anda selalu menghabiskan uang Anda di akhir bulan.

Anda sudah bisa melihat bukan? Kemampuan Anda mengelola emosi dan membereskan pola-pola emosi yang keliru akan sangat mempengaruhi pola keuangan Anda dan bahkan mempengaruhi kecepatan Anda menjadi kaya atau tidak!

Bagaimana pola keuangan Anda? Bagaimana pola emosi Anda terhadap uang?

.

Salam,
Josua Iwan Wahyudi
Master EQ Trainer Indonesia
twitter: @josuawahyudi

.


*Pelajari lebih dalam pengelolaan keuangan dengan pengelolaan emosi bersama Wealth Planner Senior Indonesia: Aidil Akbar di EQ Conference 2011*


Teknologi Mengikis EQ?

Sudahkah Anda melihat kemasan terbaru sebuah produk biskuit?

Tentu saja ini hanyalah “keisengan” para ahli digital imaging.

Dan bagi Anda yang bekerja di perusahaan produser biskuit ini semoga tidak marah kepada saya, karena perusahaan Anda mendapat promosi gratis.

Namun “keisengan” ini sebenarnya mengandung kenyataan yang sebenarnya cukup memprihatinkan kita semua. Kemajuan teknologi yang begitu luar biasa sadar atau tidak telah “menarik” kita dari kehidupan sosial yang alami kepada kehidupan sosial virtual.

Adanya Blackberry, Twitter, dan Facebook memang sangat menolong kita untuk berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain, namun disaat yang sama, sekaligus juga sebenarnya mengikis kemampuan “live” social skill kita. Makin banyak orang yang tidak terlatih untuk berhubungan secara face to face dan lebih memilih menjadi sosok virtual.

Saya menjumpai cukup banyak orang, baik teman sendiri maupun orang lain yang tampak sangat “bawel” dan menyenangkan di internet namun begitu berjumpa dengan orangnya saya seperti menjumpai sosok yang sangat berbeda total. Dia menjadi pendiam, pemalu, tidak bersuara, hampir tidak melakukan kontak mata, dan benar-benar menutup diri. Gejala ini semakin banyak dan memunculkan para pribadi-pribadi virtual yang semakin enggan berjumpa dengan “turun” ke kehidupan nyata.

Di sisi lain, kemajuan pengetahuan dan teknologi semakin menuntut generasi muda untuk menjadi “pintar” dan harus tahu banyak hal. Lihatlah kurikulum pendidikan di sekolah kita. Ekstrakurikuler berjibun, orang tua mengikutkan anak berbagai macam les. Dan memang terbukti anak zaman sekarang lebih “canggih” IQ’nya namun di berbagai kesempatan saya berjumpa dengan anak-anak muda yang jadi “freak”. Topik pembicaraannya melulu mengenai teknologi tapi tidak punya banyak teman karena sulit menyesuaikan diri dalam pergaulan.

Melihat gejala sekarang ini, sungguh akan mengkhawatirkan jika nantinya muncul generasi “robot” yang berisi berbagai pengetahuan canggih namun tidak tumpul dalam hal emotional awareness dan social awareness. (meskipun mungkin kekhwatiran ini kesannya ekstrim namun bukan tidak mungkin terjadi). Belum lagi melihat isi status-status FB dan Twitter di sekeliling dunia maya kita. Penuh dengan “makian”, ungkapan hati yang tidak pada tempatnya, protes-protes yang sebenarnya membuka aib sendiri, dan komentar-komentar yang berkesan kurang dipikirkan. Gejala ketumpulan emosional ini semakin mendapat tempat dan “dipermudah” oleh teknologi yang muncul.

Sudah saatnya kita semua mulai melatih kesadaran emosional dan sosial kita sekaligus juga melatih emotional awareness anak-anak kita. Teknologi hanyalah alat. Jika kita menggunakannya dengan baik, kita mendapat keuntungan. Namun jika kita dikuasai oleh teknologi, kita bisa kehilangan kemanusiaan kita. Semoga saja kita masih memiliki waktu untuk berkomunikasi secara “tradisional” dengan keluarga kita. Misalnya dengan makan malam bersama, main ke Dufan, dan berbagai aktifitas alami lainnya.

Kapan terakhir Anda melakukannya dengan keluarga dan sahabat Anda?

Semoga artikel ini bisa memberikan inspirasi.

Salam,
Josua Iwan Wahyudi
Master EQ Trainer Indonesia

*Dapatkan artikel inspiratif secara periodik dengan mendaftar di milis Yahoogroups ShifThink. Cara mudah untuk registrasi: isilah email Anda di kolom sebelah kanan di halaman utama web ini*


Gathering EFS 2

Pada tanggal 5 Maret 2011, ShifThink kembali mengadakan gathering untuk para alumni workshop Emotion for Success. Dalam gathering kedua ini, EQ Master Trainer kita Josua Iwan Wahyudi membahas materi EQ baru yang memperlengkapi para alumni untuk memiliki kesadaran diri lebih kuat sekaligus mampu membangun hubungan lebih baik dengan orang lain.

Materi baru yang dibawakan oleh EQ Master Trainer kita Josua Iwan Wahyudi adalah “Menjadi cerdas emosi dengan S-O-P-A-N” sekaligus dalam sesi gathering ini peserta saling diskusi dan bertukar pendapat mengenai kasus yang mereka alami dalam menerapkan EQ.

Tentunya, akan ada gathering berikutnya yang segera dilaksanakan dalam waktu dekat di tahun ini.


Public EFS Januari

Tanggal 23-25 Januari Shifthink kembali mengadakan public workshop “Emotion for Success” di Hotel Ciputra Jakarta. Selama 3 hari penuh secara eksklusif peserta mendapatkan pelatihan EQ secara menyeluruh dan komprehensif. Metode workshop yang sangat aplikatif dan praktis membuat workshop EFS menjadi workshop EQ yang berbeda dan lebih “down to earth”.

Khusus untuk batch ke-3 ini, Shifthink memberikan 2 BONUS tambahan sekaligus materi baru yaitu terapi Emotional Freedom Technique untuk menghilangkan problem emosional dengan waktu yang sangat singkat dan juga TES EQ GRAPHO ANALYSIS, yaitu tes untuk membaca kecenderungan emosional seseorang melalui tulisan dan tanda tangan. Bahkan para peserta diberikan tips-tips dasar untuk bisa membaca kondisi emosional melalui tulisan dan tanda tangan orang lain. Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi bersama Ibu Vonny C. Thamrin sebagai certified Grapholog memberikan tips-tips untuk peserta dengan cara yang fun dan seru!

Hal ini merupakan perwujudan komitmen Shifthink untuk selalu mengembangkan materi EQ yang terus up to date dan menjadi pioneer pengembangan pelatihan EQ di Indonesia. Dan tentu saja di batch ketiga ini, peserta kembali ditantang untuk melakukan sesi GLASSWALKING untuk menghancurkan ketakutan dan keyakinan-keyakinan penghambat mereka. Nantikanlah EFS batch ke-4 yang pasti akan lebih seru dan dahsyat!


EFS Bali 2011

Shifthink mengawali tahun 2011 dengan sebuah pelatihan yang sangat seru dan menakjubkan! Pada tanggal 5-8 Januari 2011, Shifthink mengadakan pelatihan “Emotion for Success” di Bali dengan 51 orang guru dari Sekolah Tunas Bangsa Bali.

Pelatihan ini dibagi menjadi 2 batch yang berlangsung secara berurutan sekaligus. Suasana pelatihan sangat antusias dan penuh dengan atmosfir pembelajaran yang positif. Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi menjelaskan berbagai tips dan teknik untuk menjadi cerdas secara emosi baik untuk kehidupan sebagai pengajar maupun sebagai seorang pribadi.

Workshop EQ kali ini juga dipenuhi dengan sharing emosional dari para peserta dan semakin melengkapi pembelajaran yang sudah dialami selama 2 hari pelatihan. Workshop Emotion for Success ini juga ditutup oleh kesan dan testimoni positif dari peserta baik dari batch 1 maupun batch 2.


Seminar EFS Malang

Pada tanggal 12 Desember 2010, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi berkesempatan untuk memberikan seminar EQ di perpustakaan kota Malang, Jawa Timur. Ternyata antusiasme warga kota Malang sangat tinggi dan keinginan belajar mereka sangat luar biasa, hal ini terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan semuanya haus untuk melemparkan berbagai pertanyaan berbobot sepanjang seminar.

Padahal acara seperti ini baru pertama kalinya diadakan di perpustakaan kota Malang, namun keingintahuan terhadap EQ mendorong setiap peserta untuk memenuhi kursi-kursi yang disediakan panitia. Bahkan buku “Emotion for Success” diserbu oleh para peserta seminar dengan antusias!

Selama 2 jam, Master Trainer EQ, Josua Iwan Wahyudi memberikan pemahaman betapa pentingnya emosi dalam keberhasilan hidup. Dengan beberapa simulasi nyata, peserta semakin mengalami sendiri bahwa setiap problem emosi yang tidak diselesaikan bisa mengakibatkan terkuburnya semua potensi dahsyat dalam diri manusia. Itu sebabnya Bp. Josua Iwan Wahyudi juga memberikan tips-tips pengelolaan emosi secara praktis kepada setiap peserta.


Seminar EFS Smart Kid

Pada tanggal 13 November 2010, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi diundang untuk memberikan seminar EQ kepada setiap orang tua murid di sekolah Smart Kid. Bersama sekitar 30an orang tua murid, Bp. Josua membahas mengenai pentingnya EQ bagi setiap orang tua.

Selama 2 jam, setiap orang tua disadarkan akan pentingnya posisi dan peran mereka dalam perkembangan emosional sang anak yang nantinya akan menjadi elemen utama penentu kesuksesan. Dalam seminar ini, para orang tua juga diberikan kesadaran untuk lebih mengambil tanggung jawab untuk melakukan pendidikan di rumah serta memberikan kebutuhan emosional bagi sang anak. Dengan memberikan contoh-contoh kasus nyata dan pengalaman pribadi, Bp. Josua memaparkan bagaimana besarnya pengaruh faktor emosi dalam kehidupan seorang manusia.

Seminar ini ditutup dengan sambutan dari sang pemilik sekolah yaitu Bp. Harsono yang mengakui bahwa seminar 2 jam tersebut juga sangat bermanfaat bagi dirinya dan memberikan banyak pembelajaran baru baginya. Dalam 2 jam tersebut, semua peserta dan bahkan para staf dan guru juga mendapatkan banyak pembelajaran bermakna.


Seminar EFS GKI Anugerah

Pada tanggal 1 November 2010, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi diundang untuk memberikan seminar EQ “Emotion for Success” di salah satu gereja terbesar di Bandung, yaitu GKI Anugerah.

Selama sekitar 2 jam, Bp. Josua berbicara mengenai pentingnya faktor pengelolaan emosi dalam berbagai aspek kehidupan. Secara khusus, dalam sesi ini, Bp. Josua menekankan pada lahirnya kesadaran diri terhadap pola-pola emosional. Di kesempatan ini beliau juga menjelaskan bagaimana cara untuk menemukan pola-pola emosi yang selama ini menghambat dan menemukan darimana akarnya.

Selain itu, sekitar lebih dari 75 peserta juga dibangkitkan kesadaran emosionalnya terhadap kebutuhan emosi orang lain. Antusiasme peserta sangat tinggi dan tampak dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan ketika sesi tanya-jawab.

Meski hanya berlangsung 2 jam, namun banyak sekali peserta yang memberikan testimoni bahwa mereka mendapatkan pencerahan baru dan siap untuk melakukan perubahan-perubahan positif dalam kehidupan mereka.