Entrepreneur VS Intrapreneur

Jika ditanya, salah satu keinginan terbanyak para karyawan “kantoran” adalah, segera resign, punya usaha sendiri, menjadi entrepreneur dan menjalani kehidupan yang “bebas” dan “sukses”.

Seorang teman pernah berkata, “lebih baik menjadi kepala ayam, daripada menjadi ekor naga!”

Itu adalah sebuah ungkapan yang artinya, lebih baik punya usaha kecil-kecilan tetapi menjadi bosnya, daripada menjadi karyawan di perusahaan besar tetapi tetaplah “bekerja pada orang”.

Sungguhkah entrepreneur lebih baik daripada kerja kantoran? Bagaimana kalau perbandingannya menjadi kepala ayam vs menjadi leher naga? Punya resto kecil-kecilan vs menjadi CEO sebuah perusahaan multinasional?

Banyak sekali karyawan yang menggebu-gebu ingin menjadi entrepreneur, tanpa mengetahui sebuah fakta bahwa: ENTREPRENEURSHIP BUKAN UNTUK SEMUA ORANG!

Ada alasannya kenapa angka wirausaha di Indonesia hanyalah 3,1% dari seluruh populasi.  Artinya, dari 33 orang, hanya 1 yang bisa menjadi seorang entrepreneur. Bahkan di negara maju saja, angka entrepreneurship tidak lebih dari 15%.

Statistik ini menunjukkan, bahwa dengan sekedar mengikuti training, seminar motivasi, dan “personal coaching”, tidak menjamin Anda bisa menjadi seorang entrepreneur karena sekali lagi, entrepreneurship bukan untuk semua orang!

Dan siapa bilang, menjadi pengusaha adalah level kesuksesan yang lebih baik dibanding menjadi karyawan “kantoran”? Begitu bias dan kacaunya definisi kesuksesan yang ada di dunia, sampai kita jadi bingung sendiri dan terjebak kepada berbagai stigma bahwa untuk sukses semua orang harus jadi entrepreneur. Padahal, memang ada orang-orang yang tidak ‘fit’ untuk menjadi entrepreneur dan ketika dia memaksakan diri, dia malah bisa menghancurkan masa depannya sendiri.

Stigma bahwa entrepreneur lebih baik dari intrapreneur (pekerja “kantoran) menciptakan beban rasa bersalah dan beban tuntutan seumur hidup bagi para karyawan yang belum (dan akhirnya tidak) berhasil menjadi seorang wirausahawan. Mereka selalu menganggap diri mereka lebih rendah kastanya setiap kali ketemu orang-orang yang sudah menjadi wirausahawan.

Padahal, sungguhkah entrepreneur selalu lebih baik hidupnya dari intrapreneur?

Hidup ini soal pilihan dan bagaimana kita mengelola (manage) semua konsekuensi-konsekuensi dari pilihan kita. Kuncinya terletak di kemampuan “life management” kita. Entrepreneur atau intrapreneur hanyalah pilihan hidup yang membawa keuntungan dan kekurangannya masing-masing.

Tidak ada pilihan yang lebih baik. Yang ada hanyalah pilihan yang LEBIH PRODUKTIF. Untuk saya, mungkin menjadi entrepreneur adalah  pilihan yang lebih produktif, tetapi bagi Anda bisa jadi malah merupakan pilihan yang kontra produktif. Atau sebaliknya.

Karena itu, penting untuk Anda mengetahui tipikal dan profil diri Anda sendiri, supaya Anda bisa menentukan apakah menjadi entrepreneur akan membuat Anda menjadi lebih produktif dala  melakukan “life management” ataukah jangan-jangan menjadi intrapreneur justru pilihan yang lebih produktif bagi Anda?

Saya mengenal seorang programmer handal. Dia bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji yang cukup tinggi. Karena keahliannya yang handal, akhirnya banyak orang yang memberinya “project pribadi”. Melihat hal ini, ia berpikir, sudah saatnya dia berhenti kerja dan mulai membuka software house’nya sendiri.

Akhirnya ia memberanikan diri untuk resign dan mulai menapak kaki untuk memiliki usaha sendiri (walaupun saat itu dia masih satu-satunya karyawan untuk dirinya sendiri). Namun apa yang terjadi? Tanpa lingkungan kerja “kantoran”, dia gagal untuk mengelola waktu, mengelola prioritas, dan banyak deadline kerja yang terbengkalai sehingga project’nya banyak yang gagal.

Singkat cerita, ia kemudian kembali bekerja “kantoran” dan hingga kini ia masih berprofesi sebagai karyawan. Performanya justru semakin bagus. Atasannya memberikan kebebasan jam kerja dan berbagai bonus tambahan untuk performanya yang baik. Rupanya, pola kerja intrapreneur membuatnya lebih produktif untuk mengelola hidupnya dibandingkan dengan menjadi seorang entrepreneur.

Tentu saja, Anda bisa berkata “Ah itu mah orangnya aja yang kurang disiplin”. Itu betul.

Tetapi, untuk melatih disiplin, ada orang-orang tertentu yang membutuhkan lingkungan pendukung (misalnya pola kerja “kantoran”?). Inilah yang saya sebut bahwa entrpreneurship bukan untuk semua orang.

Sukses itu bukan terletak apakah Anda berhasil menjadi pengusaha atau tidak. Tetapi terletak pada bagaimana Anda mampu mengatur hidup Anda, sehingga Anda memiliki kehidupan yang berkualitas, karya yang berdampak, dan memberi nilai bagi orang-orang di sekitar kita. Itu bisa dilakukan baik sebagai entrepreneur maupun sebagai intrapreneur, tergantung mana yang lebih produktif untuk profil tipikal Anda.


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.


DNA Entrepreneur

“Entrepreneurship bukanlah untuk semua orang.”

Kalau Anda kebetulan pernah menghadiri seminar motivasi atau kelas-kelas training dimana pembicaranya berkata “Asalkan ada niat dan tahu caranya, semua orang bisa menjadi entrepreneur!”, menurut saya, itu sebuah kalimat yang cacat logika.

Statistik menunjukkan bahwa angka entrepreneurship di Indonesia tahun 2017, adalah 3,1% dan di negara-negara maju berkisar sekitar 8-13%.

Artinya, di Indonesia, dari 33 orang hanya 1 yang berkemungkinan menjadi entrepreneur. Sedangkan di negara-negara maju, dari 33 orang, paling banyak 5 orang saja yang berpeluang menjadi entrepreneur.

Statistik jelas-jelas menyatakan bahwa entrepreneurship BUKAN UNTUK SEMUA ORANG.

Lalu, secara “hukum alam” sendiri, dibutuhkan lebih banyak karyawan ketimbang entrepreneur. Karena setiap 1 orang pemilik usaha membutuhkan minimal 1 orang juga untuk menjadi karyawannya dia. Semakin besar usahanya, semakin banyak pula karyawan yang dia butuhkan untuk bekerja kepadanya.

Kalau semua orang menjadi entrepreneur, lalu siapa yang jadi karyawannya? Kalau 50% populasi menjadi entrepreneur, maka dengan sendirinya itu keadaan itu akan membunuh entrepreneurship karena kekurangan tenaga kerja untuk menjadi karyawan. Maka, memang sudah menjadi “hukum alam” bahwa jumlah entrepreneur selalu jauh lebih kecil dari jumlah karyawan “yang kerja sama orang”.

Maka, memberikan harapan palsu dengan kata-kata “Semua orang bisa menjadi entrepreneur!” adalah sebuah dorongan motivasional yang berbahaya sekaligus kejam. Saya sebut kejam karena memberikan iming-iming palsu tanpa membuka semua fakta kebenarannya.

Dan karena entrepreneurship bukan untuk semua orang, itu sebabnya, Founder Institute, salah satu lembaga pendidikan Start Up yang cukup ternama dari Amerika dan sudah memiliki perwakilan di berbagai kota besar dunia, mencetuskan istilah “DNA Entrepreneur”. Artinya, orang-orang yang menjadi entrepreneur sukses biasanya memiliki ciri-ciri yang mirip.

Akan sangat panjang untuk membahas keseluruhan detail DNA Entrepreneurship ini. Di artikel kali ini, saya hanya akan memaparkan secara singkat, 3 indikator dasar untuk memeriksa apakah di dalam diri kita ada “bakat” seorang entrepreneur. Mari kita mulai!

EMOTIONAL STABILITY

Dunia wirausaha adalah dunia yang penuh gejolak, perubahan, dan sangat dinamis. Banyak hal-hal diluar prediksi yang bisa terjadi dan seringkali kita akan berhadapan dengan situasi-situasi yang tidak jelas namun membutuhkan keputusan yang cepat dan tegas.

Disinilah Kecerdasan Emosi (EQ) menjadi penting, karena dibutuhkan orang yang memiliki ketenangan emosional. Entrepreneur sejati adalah orang yang berhati-hati, sekaligus berani. Artinya, dia bisa mengambil keputusan yang teguh dengan cepat namun sekaligus juga sudah memperhitungkan konsekuensinya.

Dan yang menarik, sebagian besar entrepreneur sukses adalah orang-orang yang tidak kehilangan ketenangannya meski sedang menghadapi krisis maupun keadaan-keadaan sulit di luar perkiraan. Itu sebabnya, mereka mampu menghadapi resiko dan ancaman dengan tetap tenang tanpa kehilangan pemikirannya.

Seorang entrepreneur adalah orang yang bisa hidup dalam ketidakpastian dan bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan yang dinamis. Apalagi jika kita berbicara mengenai masa-masa perintisan, ketidakpastian income, keadaan yang penuh kejutan ini itu, semuanya harus dihadapi dengan tanpa kehilangan optimisme.

Banyak sekali orang yang batal menginjakkan kaki menjadi wirausahawan lantaran mereka ingin kepastian. Mereka tidak tahan hidup tanpa fix income tiap bulan. Mereka kewalahan menghadapi stok barang yang menumpuk tanpa tahu kapan bisa terjual. Mereka terkaget-kaget dengan perubahan situasi pasar yang tiba-tiba lesu dan hilang tren. Mereka bingung ketika semua cara sudah dilakukan tapi hasilnya tak kunjung nampak.

Dibutuhkan sebuah “kematangan” emosional tersendiri untuk bisa menghadapi situasi-situasi semacam ini. Apakah Anda bisa hidup dalam keadaan-keadaan tersebut?

 

SELF DRIVEN

Seorang entrepreneur adalah orang yang bisa memacu dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan orang lain untuk menyuruhnya bekerja. Ia mampu membangun disiplinnya sendiri.

Cobalah tengok para entrepreneur sejati yang memulai usaha mereka dari nol seorang diri. Mereka punya disiplin kebiasaan yang dibangun dengan konsisten. Mereka bangun pagi tanpa diminta. Mereka lembur jika diperlukan tanpa harus disuruh. Mereka tahu hal-hal apa yang harus dikerjakan untuk supaya berhasil. Mereka tidak mudah kehilangan mood dan bisa konsisten bekerja secara ulet dan tekun.

Jika Anda jenis orang yang membutuhkan orang lain untuk menyemangati Anda. Jika Anda butuh disuruh-suruh dan diingatkan agar bisa produktif. Atau, jika Anda butuh lingkungan yang teratur, jelas, dan membutuhkan sistem pengingat agar Anda bisa bekerja maksimal, maka kemungkinan Anda akan sulit hidup di dalam dunia entrepreneurship.

Karena dunia entrepreneurship membutuhkan orang-orang yang bisa “membangkitkan” etos kerja dari dalam dirinya sendiri. Dan lagi-lagi, trait “self driven” ini juga adalah bagian dari Kecerdasan Emosi (EQ).

 

SOCIAL SMART

Para entrepreneur yang berhasil adalah orang-orang yang fleksibel dan fasih dalam membangun komunikasi dan hubungan dengan orang lain.

Banyak orang berpikir, kalau mau punya usaha kuliner, maka kita harus ahli memasak atau setidaknya ahli dalam dunia kuliner. Atau, jika mau punya usaha bengkel, maka kita haruslah orang yang mengerti dan ahli tentang mesin otomotif.

Kita pikir, keahlian teknis adalah hal terpenting yang membuat usaha kita berhasil. Namun  kenyataannya, justru di luar itu, ada hal yang lebih penting lagi. Yaitu: relasi dan koneksi.

Sebuah usaha yang berhasil bukan cuma karena produk atau jasanya yang bagus. Tetapi, juga karena adanya jaringan relasi dan koneksi yang luas dan kuat. Disinilah kemampuan untuk membangun komunikasi dan hubungan menjadi hal yang sangat penting.


Nah, bagaimana kalau Anda tidak memiliki ketiga hal di atas? Apakah itu artinya Anda harus mengurungkan niat sebagai entrepreneur?

Begini, masih ada beberapa indikator lain yang harus kita periksa. Namun, jika Anda lemah pada 3 indikator di atas, maka memang sebaiknya Anda mempertimbangkan ulang untuk memilih jalur entrepreneur. Karena, toh kesuksesan hidup bukan diukur apakah Anda menjadi entrepreneur atau tidak.

Lalu, beruntungnya kita hidup di era modern yang membuka berbagai kemungkinan yang luas. Di era bisnis modern sekarang ini, jika kita lemah dalam beberapa hal, sebenarnya kita bisa bekerja sama dengan orang lain untuk memulai bisnis bersama-sama. Namun, “join kongsi” ini pun juga memiliki keuntungan dan kelemahannya. Di artikel yang lain saya akan membahas soal ini.

Menutup artikel ini, hal penting yang ingin saya sampaikan adalah: Tuhan menciptakan kita unik dan berbeda-beda. Jalur kesuksesan seseorang belum tentu menjadi jalur kesuksesan untuk kita. Artinya, belum tentu entrepreneurship adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan dan kebahagiaan hidup. Jangan terbebani HARUS menjadi entrepreneur hanya karena ajaran-ajaran “ngawur” dari beberapa orang yang mengharuskan Anda menjadi wirausahawan.

Mengenali diri-sendiri dan memaksimalkan potensi kita, itulah yang lebih penting. Percayalah kepada Tuhan yang menciptakan diri Anda dengan kelebihan yang Anda miliki. Entrepreneurship hanyalah satu dari sekian opsi yang terbentang. Pilihlah mana yang paling produktif untuk Anda.


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.


Career Killer

 

“Cara Cepat Untuk Naik Jabatan! (dan Gaji!)”

Begitulah kurang lebih judul seminarnya. Tapi sayang, ketika dihadiri dan disimak, ternyata pemaparan yang diberikan tidaklah sebanding dengan kehebohan judulnya, karena kata “cepat” itu sendiri memanglah relatif. Cepat bagi si pembicara belum tentu cepat menurut saya.

Tetapi pertanyaannya, sungguhkah ada cara yang (setidaknya) bisa mempercepat laju karir “kantoran” kita?

Jika Anda benar-benar mengamati, sebenarnya memang ada beberapa orang (lebih tepatnya, sedikit orang) yang mengalami kenaikan jabatan lebih cepat dibandingkan orang-orang pada umumnya. Salah satu strategi mereka adalah, berpindah-pindah perusahaan. Jika perlu, berpindah fungsi jabatan, yang penting gaji dan level jabatannya naik.

Saya tidak akan membahas soal pindah memindah ini. Saya akan menulis artikel lain soal ini.

Dalam tulisan kali ini, saya lebih ingin membahas, apa yang membuat seseorang mengalami “stuck” dalam karirnya. Sudah bekerja begitu lama, tetapi level pertumbuhannya hanyalah rata-rata (baik secara tingkat jabatan maupun gaji), atau bahkan malah minim.

Hampir seluruh karyawan “kantoran” yang saya jumpai, memiliki mentalitas dan cara pandang yang mirip-mirip dalam bekerja. Inilah yang membuat mereka kemudian masuk dalam golongan “average” itu. Inilah yang saya sebut dengan keadaan “Career Killer”, yaitu sikap, tindakan, dan cara pandang yang tanpa mereka sadari sudah membunuh perkembangan karir mereka sendiri.

Dalam tulisan ini, tidak semua bisa saya bahas karena akan menjadikan artikel ini terlalu panjang. Saya akan mencoba membahas 2 hal yang paling mendasar dan paling “killer” lebih dulu:

 

Auto Pilot Attitude

“Bertambahnya usia membuat Anda menjadi makin tua, tapi tidak menjamin Anda menjadi makin dewasa”

Pernah mendengar quotes bijaksana ini?

Di dalam hidup ini, ada hal-hal yang secara pasti akan meningkat dengan bertambahnya durasi/waktu. Salah satunya usia. Tetapi, kalau kita berbicara kapasitas, keahlian, dan kompetensi, aturan ini tidaklah berlaku (atau setidaknya tidak berlaku kepada sangat banyak hal).

Banyak karyawan yang berpikir, kalau mereka bekerja dalam kurun waktu yang lama, maka otomatis mereka cepat atau lambat akan naik jabatan dan naik gaji. Makin lama waktu yang didekikasikan, harusnya makin banyak pertambahannya. Itu sebabnya, kemudian banyak orang bekerja secara “auto pilot”, alias cuma melakukan rutinitas seadanya dan menjalankan “program” sehari-hari mereka sambil berharap karir mereka akan terus meningkat seiring waktu.

Masalahnya, hampir seluruh tempat kerja kita, bukanlah non-profit organization. Sebagus-bagusnya visi dan value sebuah perusahaan, tetaplah mereka profit-based organization. Artinya, mereka membutuhkan orang-orang yang bisa “make money” untuk perusahaan mereka. Maka, disinilah dituntut kompetensi, keahlian, dan performa kinerja yang setinggi-tingginya.

“Wah… Berarti kita ini cuma sapi perah ya…” Jika itu kalimat yang muncul di kepala Anda, saya exact akan membahas soal ini di poin kedua nanti.

Lanjut lagi. Kompetensi dan kinerja, tidak nongol begitu saja. Semuanya harus DIUSAHAKAN. Perlu pembelajaran, latihan, disiplin, dan niat untuk mewujudkannya. Anda tidak bisa memperoleh semua itu hanya dengan sekedar “auto pilot” setiap hari.

Sayangnya, ada begitu banyak karyawan yang masih tidak menyadari ini. Tapi bagi sebagian kecil yang memahami prinsip ini, mereka melatih diri dan mengembangkan diri sehingga memiliki keunggulan dibanding orang lain. Dan ketika perusahaan melihat orang-orang yang “stand out” ini, tidak heran kemudian mereka mengangkat orang-orang ini menjadi pemimpin dan menaikkan gaji mereka, karena mereka menyumbang kontribusi lebih banyak dari orang lain pada umumnya.

Kuncinya disini adalah, niat dan keinginan untuk mengembangkan diri menjadi lebih kompeten dari orang lain. Jika memang Anda serius ingin karir Anda lebih baik, tinggalkan budaya “auto pilot” Anda.

 

Self Slavery Attitude

Sikap “pembunuh karir” berikutnya adalah sikap atau mentalitas budak.

Bagaimana perusahaan memandang Anda tidaklah lebih penting daripada bagaimana Anda memandang diri Anda sendiri.

Banyak karyawan menganggap diri mereka sebagai “sapi perah”, “orang bawah”, “pion catur”, “budak jajahan”. JIka Anda memandang diri Anda sendiri seperti itu, maka tidak heran kelakuan Anda menjadi seperti itu.

Tidak peduli apa pandangan orang lain (dan perusahaan atau bos Anda) kepada Anda, Anda harus tetap bisa melihat diri Anda adalah orang yang berharga, dengan begitu sikap dan tindakan Anda akan menjadi berbeda. Tindakan yang berbeda itulah yang mengantarkan karir Anda meningkat (kalau bukan di perusahaan yang sekarang ini, pasti ada perusahaan lain yang bisa melihat potensi Anda).

Ketika kita memposisikan diri menjadi korban, sebenarnya kita sedang memperbudak diri-sendiri. Dan setiap karyawan yang bermental budak, akan menerima perlakukan “perbudakan” dari perusahaan dan atasan mereka. Bukan salah perusahaannya atau bos Anda, tetapi karena Anda sendiri yang memposisikan diri sebagai budak jajahan.

Salah satu ciri paling utama yang menunjukkan bahwa kita bermental budak jajahan adalah: baru bertindak kalau disuruh. Tidak ada seorang budak yang memiliki INISIATIF. Inisiatif hanya dimiliki oleh para innovator, orang yang hidupnya terus berkembang.

Sementara, di berbagai tempat kerja, dengan mudah kita menjumpai orang-orang yang hanya bekerja kalau ada atasannya. Baru bekerja kalau diperintah dan disuruh. Baru mau bergerak kalau dimarahi dan diancam-ancam. Baru serius kalau dipotong gajinya. Artinya, dari perilaku mereka ini, mereka sendiri yang meminta untuk “dijajah”.

Sekali lagi, jika Anda serius ingin mengalami peningkatan karir, berhentilah memposisikan diri sebagai sapi perah. Mulailah berinisiatif untuk berkarya tanpa diminta dan disuruh. Tunjukkan kualitas Anda yang sesungguhnya. Bagaimanapun, orang yang berkualitas akan segera bertemu dengan orang-orang yang akan bisa menghargai kualitas itu.

Tetapi jika Anda terus-menerus memposisikan diri sebagai “budak jajahan”, maka sampai selamanya, orang-orang akan terus memperlakukan Anda sebagai “budak jajahan”.

Selamat berkarir!


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.


AHOK: EQ’nya Tinggi atau Jongkok?

Sejak awal terpilih menjadi wakil gubernur DKI, gaya kepemimpinan Basuki Tjahya Purnama atau khas dipanggil Ahok sudah menuai pro dan kontra. Penggunaan kata-kata yang frontal, tanpa “polesan” sedikitpun dan tidak jarang dibumbui dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajah yang “menyala-nyala” membuat banyak masyarakat kita yang shock karena seolah sangat tidak mewakili ke”timur”an kita.

Namun, di satu sisi, banyak juga yang senang dan mendukung gaya Ahok karena sebenarnya semua yang disampaikan dan dilakukan Ahok mungkin mewakili isi hati dan bentuk perilaku yang ingin mereka ungkapkan, tapi tak punya kesempatan. Sehingga, ketika ada seorang Ahok yang tanpa “babibu” menghajar siapapun yang menurutnya tidak benar, sebagian orang merasa terpuaskan akhirnya ada yang bisa melakukan itu.

Artikel saya kali ini sama sekali tidak akan membahas apakah gaya Ahok itu benar atau salah. Terlalu banyak perdebatan tiada akhir yang sudah membahas hal itu.

Sebagai seorang pakar Kecerdasan Emosi (EQ), justru ada sisi yang lebih menarik untuk dibahas, yaitu, dengan gaya komunikasi dan kepemimpinan yang diterapkan Ahok, apakah dia bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) tinggi? Atau malah sebaliknya?

.

MISPERSEPSI EQ

Untuk bisa menyebut seseorang pintar, kita harus punya pemahaman dan indikator seperti apa pintar itu. Untuk bisa menyebut seseorang cantik, kita harus punya pemahaman dan indikator seperti apa cantik itu. Dan begitu pula dengan Kecerdasan Emosi (EQ), untuk bisa menyebut seseorang EQ’nya tinggi atau rendah, kita juga harus memahami lebih dulu apakah Kecerdasan Emosi (EQ) itu dan apa indikator-indikatornya. (Baca tulisan saya “3 tanda Kecerdasan Emosi (EQ) yang baik”).

Masih banyak orang yang memahami Kecerdasan Emosi (EQ) dengan indikator sabar, baik hati, tidak mudah marah, santun, dan kalem. Jika pemahaman kita seperti itu, maka dengan cepat kita akan menyimpulkan Ahok EQ’nya sangat buruk.

Namun, pemahaman di atas BUKANLAH pemahaman EQ yang benar.

Seperti yang selalu saya jelaskan dalam seminar, workshop, dan training EQ yang saya bawakan, Kecerdasan Emosi (EQ) berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk MENYADARI semua perasaan yang muncul dalam dirinya (maupun orang lain) dan MENGGUNAKANNYA untuk hasil akhir yang PRODUKTIF! Inilah definisi Kecerdasan Emosi (EQ) yang paling simpel dan aplikatif menurut saya.

Contoh, jika seseorang sedang merasa marah, maka jika orang itu cerdas emosi, dia akan SADAR bahwa dia sedang marah, tahu kenapa alasan dia menjadi marah, dan tahu apa saja yang bisa terjadi jika dia marah. Artinya, orang ini AWARE dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi ketika dia marah.

Sebaliknya, jika orang itu buruk EQ’nya, ketika dia marah, mungkin bahkan dia sudah kehilangan separuh AWARENESSnya karena perasaan marahnya sudah meluap-luap dan membuatnya “tertutup” dari kesadaran akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika dia marah.

Inilah yang terjadi pada kasus-kasus yang kita jumpai dalam acara-acara kriminal di televisi, dimana sebagian besar pelaku pembunuhan atau kekerasan bahkan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan “khilaf” atau “hilang sesaat” akibat dorongan emosi yang terlalu kuat. Sehingga, emosinya mengalahkan kesadarannya. Pada titik ini, bahkan biasanya kita kehilangan AWARENESS kita terhadap situasi sekitar kita, apa-apa yang sedang terjadi, dan (apalagi) apa-apa yang bisa terjadi di kemudian hari.

.

MENGGUNAKAN UNTUK PRODUKTIFITAS

Selain menjaga kesadaran (awareness) terhadap diri-sendiri dan sekitarnya, orang yang Ber’EQ tinggi juga mampu mengolah, mengatur, dan MENGGUNAKAN atau MEMBERDAYAKAN perasaan yang dia alami maupun orang lain alami untuk mencapai sebuah hasil yang ia anggap PRODUKTIF. Tentu saja ukuran produktif ini berbeda-beda pada tiap orang, tapi at least, kalau seseorang masih sempat berpikir mengenai hasil yang produktif, yaitu hasil yang terbaik dari berbagai kemungkinan hasil yang ada, maka itu artinya dia masih dalam kondisi AWARE (sadar).

Maka, untuk mencapai kondisi hasil akhir yang produktif itulah orang yang ber’EQ tinggi bisa “memanfaatkan” apa yang dia rasakan, maupun dirasakan oleh orang lain.

Contoh, jika kita tahu bahwa satu-satunya cara untuk membuat seseorang keluar dari sebuah ruangan adalah dengan “memanfaatkan” rasa takut dia, maka jika kita memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) tinggi, kita akan mampu “membaca” apa titik-titik ketakutan orang itu dan melakukan hal-hal yang menakutkan untuk membuat dia bergerak keluar (mencapai kondisi akhir produktif).

.

BAGAIMANA DENGAN AHOK?

Nah, jika dirangkum dengan sederhana, 3 indikator umum orang yang memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) tinggi adalah memiliki kesadaran (awareness) terhadap diri-sendiri dan orang lain, kemudian mampu mengelola dan memanfaatkannya untuk mencapai hasil akhir yang produktif (menurut dia).

Lalu bagaimana dengan Ahok? Apakah Ahok melakukan 3 hal yang “cerdas emosi” tersebut?

Mari kita tilik satu-persatu. Apakah ketika Ahok marah-marah dan bertindak “agresif”, dia melakukannya masih dalam kondisi aware? Atau itu hasil luapan emosi yang tak terkontrol?

Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang masih dalam kondisi aware? Orang itu sadar apa konsekuensi tindakannya dan SIAP MENERIMA konsekuensinya. Jadi, EQ bukan berbicara pada “marah-marahnya”, tetapi lebih kepada “ketika dia marah, apakah dia MEMUTUSKAN dengan sadar untuk marah dan tahu apa akibatnya serta siap menanggung akibat tersebut”?

Menurut Anda, apakah Ahok melakukan semua yang dia tunjukkan selama ini dengan SADAR dan memang MEMILIH untuk bertindak demikian? Menurut Anda, apakah Ahok sudah menghitung semua konsekuensi-konsekuensinya dan siap menanggung konsekuensi itu? Menurut Anda, apakah Ahok “hilang sesaat”, khilaf, tak terkontrol, dan menyesali apa yang dia lakukan kemudian? Silahkan Anda menilainya sendiri dari kacamata pengamatan Anda dan kemudian memutuskan di bagian awareness ini apakah dia memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) yang baik atau tidak.

Lalu yang berikutnya,

Dari sisi Menggunakan emosi untuk hasil akhir yang produktif, menurut Anda, apakah Ahok dengan sadar MEMUTUSKAN untuk menjadi agresif dan “menekan” agar dia bisa mencapai hasil akhir yang menurut dia produktif? Menurut Anda, apakah tindakan represif dan frontalnya itu lahir dari sebuah “strategi” yang memang dia pilih, atau sekedar ledakan emosi sesaat yang tak bisa ia kendalikan dan muncul tanpa bisa dia kontrol?

Menurut Anda, apakah yang dia lakukan selama ini adalah “in purpose” atau hanya sekedar sebuah nature dan habit yang mengendalikan dia?

Bahkan, lebih ekstrim lagi, pemilihan kata-kata (yang bagi sebagian orang seharusnya tak pantas diucapkan oleh orang sekaliber “leader” seperti Ahok) yang dia pilih, menurut Anda, itu memang dengan SADAR dia putuskan untuk diucapkan atau sekedar lahir dari reaksi otomatisnya ketika dia sedang emosional?

Sekali lagi, dari kacamata pengamatan Anda sendiri, silahkan Anda menentukan apakah Ahok memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) yang tinggi atau malah jongkok?

.

JADI, AHOK CERDAS EMOSI ATAU TIDAK?

Sejak awal, saya memang tidak ingin menjawab pertanyaan ini melalui artikel yang saya tulis. Saya hanya ingin memaparkan definisi Kecerdasan Emosi (EQ) yang sesungguhnya dan membiarkan Anda menilai sendiri, sesungguhnya apakah Ahok memang cerdas emosi? Atau dia hanyalah seorang monster emosional? Silahkan Anda tentukan sendiri.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang EQ, silahkan membaca ini.

.

JOSUA IWAN WAHYUDI
Master Trainer EQ Indonesia
@josuawahyudi


3 Tanda Kecerdasan Emosi (EQ)

Banyak orang sudah mendengar mengenai EQ atau Emotional Quotient atau Emotional Intelligent yang juga sering disebut dengan Kecerdasan Emosi. Banyak pula orang yang sudah tahu bahwa EQ penting untuk kehidupan dan merupakan indicator kesuksesan yang sangat signifikan.

Namun, jika ditanya, orang seperti apakah yang disebut orang yang cerdas emosi (atau EQnya baik)? Banyak orang masih bingung menjawabnya.

Kebanyakan orang berpikir EQ atau Kecerdasan Emosi berkaitan dengan menjadi sabar, tidak marah-marah, baik hati, dan bisa kalem dalam berbagai keadaan. Inilah mitos keliru mengenai Kecerdasan Emosi atau EQ.

Jika Anda benar-benar belajar mendalam tentang Kecerdasan Emosi / EQ, Anda akan mengetahui bahwa cerdas emosi terletak pada PROSES, bukan HASIL. Apa hasil akhir keputusan dan perilaku seseorang tidak bisa serta merta dipakai untuk menilik tingkat Kecerdasan Emosi / EQ seseorang. Karena, sebuah tindakan yang sama, bisa saja dihasilkan dari 2 proses yang bertolak belakang sama sekali.

Misalnya, tindakan memarahi seseorang. Bagi orang yang EQnya buruk, dia marah sebagai akibat luapan emosi yang tak bisa ia kendalikan lagi dan ia “lampiaskan” begitu saja dalam kemarahannya. Sebaliknya, orang yang cerdas emosi juga mungkin saja memarahi seseorang, namun tindakan marahnya lahir justru dari penguasaan diri dan pengambilan keputusan secara SADAR bahwa memang dia ingin marah agar mendapatkan hasil yang produktif.

Dua-duanya sama-sama marah, namun proses menghasilkan “marah”nya berbeda. Yang satu kehilangan kontrol diri, sedang yang lain, justru lahir dari awareness dan penguasaan diri yang kuat.

Maka disinilah sebenarnya esensi Kecerdasan Emosi / EQ, yaitu pada bagaimana proses lahirnya sebuah keputusan atau tindakan, apakah melewati proses pencerdasan emosional? Atau tidak sama sekali.

Nah, dalam artikel kali ini, saya akan membahas mengenai 3 tanda orang yang matang secara emosional, atau bisa dikatakan memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) yang kuat. Tentu saja sebenarnya indikatornya bukan hanya 3 ini, tetapi jika saya tuliskan semua, artikel ini akan menjadi sangat panjang.

Mari kita mulai.

.

Semakin dewasa seseorang, maka seharusnya semakin kuat penguasaan dirinya. Dan itu ditunjukkan melalui cara berpikirnya yang holistik. Artinya, sebelum dia memutuskan atau bertindak, dia sudah menyadari apa dampak dan konsekuensi menyeluruh dari keputusan dan tindakannya.

Lihatlah anak kecil, ketika mereka ingin melakukan sesuatu, mereka SEGERA melakukannya tanpa memikirkan apa akibatnya. Ketika mereka ingin mainan api, mereka segera melakukannya tanpa menyadari bahwa api itu bukan hanya bisa berbahaya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bisa menimbulkan bencana buat lingkungan dan orang-orang sekitarnya.

Orang yang dewasa tidak bertindak hanya karena “pengen” atau sekedar karena dorongan meluap oleh perasaannya. Orang yang cerdas emosi tidak marah hanya karena sedang merasa kesal dan ingin marah. Orang yang EQnya tinggi, tidak melakukan sesuatu karena dorongan perasaan semata.

Justru anak-anaklah yang melakukan semuanya karena dorongan perasaan mereka. Karena itulah anak-anak, kemampuan penguasaan emosinya masih sangat lemah.

Maka, salah satu tanda kecerdasan emosi (EQ) adalah kemampuan seseorang untuk berpikir secara menyeluruh. Ketika kita memutuskan untuk membeli sesuatu, memutuskan untuk bertindak sesuatu, apakah itu melewati proses berpikir yang holistik? Artinya sudah mempertimbangkan dari banyak sisi (bukan hanya dari sisi keuntungan diri-sendiri semata).

.

Tanda kedua kematangan emosional adalah kemampuannya untuk memutuskan atau bertindak berdasarkan karakter, bukan berdasarkan perasaan.

Karakter adalah sesuatu yang dibangun, bukan dibawa sejak lahir. Karakter lahir dari pengulangan kebiasaan yang terus-menerus.

Contoh, pada saat kita ditawarkan “uang suap”, mungkin dorongan keinginan dan perasaan kita mendorong untuk kita menerimanya. Tetapi, sebagai orang yang cerdas emosi dan matang, kita tidak boleh bertindak berdasarkan “pengen”, namun bertindak berdasarkan karakter apa yang ingin kita bangun dalam diri kita.

Maka, ketika kita bertekad membangun karakter “jujur” dan “berintegritas”, meskipun sebenarnya kita ingin sekali menerima suap itu, namun kita harus tetap memutuskan menolaknya. Inilah yang disebut dengan kompetensi Delay Gratification dalam Kecerdasan Emosi (EQ).

.

Tanda kematangan emosional yang ketiga adalah ketahanan terhadap tekanan. Orang yang dewasa sudah  seharusnya mampu memikul tanggung jawab lebih banyak daripada anak kecil. Dan tanggung jawab berbicara mengenai beban dan pressure.

Salah satu keluhan terbesar terhadap Gen-Y dan Gen-Z adalah kerapuhan mereka dalam menerima tekanan. Tentu saja saya tidak ingin menjadi judgemental terhadap generasi muda, namun dari sudut pandang EQ, orang yang cerdas emosi adalah orang yang bisa mengelola tekanan-tekanan dan memiliki self motivation yang tangguh.

Jika seorang dewasa mudah sekali break down hanya karena sedikit tekanan, apa bedanya dia dengan anak-anak yang dengan segera menangis dan menjerit-jerit ketika dimarahi atau ditegur?

Meski masih ada beberapa indicator EQ lainnya, namun setidaknya dengan melatih 3 hal di atas, sebenarnya kita sudah melatih meningkatkan level Kecerdasan Emosi (EQ) kita.

JOSUA IWAN WAHYUDI
Master Trainer EQ Indonesia
@josuawahyudi


Konferensi Nasional Anak Bersinar

Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi mendapatkan kesempatan unik untuk berbagi dalam acara Konferensi Nasional Anak Bersinar. Acara ini dihadiri oleh sekitar 350 praktisi pendidikan anak dan remaja dari seluruh Indonesia. Konferensi nasional yang diadakan pada tanggal 3-6 Maret 2015 ini sangat menarik karena membahas mengenai semua isu pendidikan anak termasuk juga membahas masalah-masalah kejahatan terhadap anak meliputi, pedagangan anak, eksploitasi seksual, kekerasan terhadap anak, hak asasi anak, metode pendidikan anak, kejahatan narkoba terhadap anak, bahaya HIV pada anak-anak, hingga perkembangan teknologi digital dan pengaruhnya.

Dalam konferensi yang diselenggarakan di Hotel New Saphir Yogyakarta ini, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi mendapatkan kepercayaan termasuk salah satu pembicara yang diundang dari daftar sekitar 20 ahli, pakar, dan praktisi yang berbicara dalam konferensi ini sesuai bidang keahlian mereka masing-masing.

Dalam sesinya, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi membahas bagaimana perkembangan media digital dan social media terhadap perilaku dan pertumbuhan emosional Gen-Y dan Gen-Z. Dalam sesi yang sangat interaktif ini, peserta dibukakan dengan data-data faktual mengenai kenyataan adanya “dunia digital” yang justru menjadi rumah utama bagi generasi muda yang jika tidak dikelola dengan baik bisa menimbulkan banyak ancaman sosial dan mengganggu kematangan emosional generasi muda.

Sebagai pakar EQ yang banyak bergelut dan berpengalaman dengan anak-anak muda, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi banyak menyampaikan dari sisi pengalaman praktisnya berjumpa dengan generasi digital di “lapangan” kehidupan sehari-hari dan bagaimana EQ generasi muda mengalami degradasi akibat perkembangan teknologi digital yang tidak dikelola dengan bijaksana baik oleh orang tua, pendidik, maupun oleh anak muda itu sendiri.

Antusiasme peserta sangat terlihat dari suasana sesi yang sangat fun dan dari banyaknya pertanyaan penting yang diajukan oleh peserta dari berbagai pelosok wilayah Indonesia ini. Mengingat masih belum ada pakar Kecerdasan Emosi (EQ) yang aktif bergerak dalam pendidikan anak-anak muda dan Gen-Y/Gen-Z, maka sesi yang dibawakan oleh Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi ini menjadi sebuah pencerahan baru bagi para pendidik anak-anak di Indonesia.


Double Working Ethics Training!

Mengawali bulan Maret 2015, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi diberikan kepercayaan untuk memberikan seminar motivasi kepada 2 perusahaan sekaligus.

Seminar pertama diadakan tanggal 2 Maret 2014 di Hotel GrandWhizz Kelapa Gading dimana Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi berkesempatan untuk berbicara kepada sekitar 50 karyawan inti PT Intinusa Teknik Anugerah yang merupakan sebuah perusahaan kontraktor mechanical & electrical untuk berbagai proyek gedung bertingkat prestisius di Indonesia.

Selama 2 sesi, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi banyak berbicara mengenai etos kerja yang harus dimiliki seorang Top Performer. Disinilah peserta diajak melihat langsung apa saja attitude, sikap mental, dan tindakan-tindakan orang-orang yang dianggap Top Performer dalam perusahaan mereka, dan bagaimana sikap itu akan terus membawa karir mereka meningkat seiring dengan kualitas yang mereka tunjukkan.

Selain itu, pada hari Sabtu, tanggal 7 Maret 2014 di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Shifthink diberikan kepercayaan oleh New Beringin Group untuk memberikan pelatihan kepada 72 karyawan dari berbagai divisi. Tujuan seminar ini diadakan agar para karyawan bisa memiliki cara hidup yang berbeda di luar lingkungan kerja namun bisa meningkatkan produktivitas dan semangat mereka dalam bekerja.

Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi menyampaikan pengertian cara hidup orang “kaya” yang benar dan perbedaan yang berbanding terbalik dengan gaya hidup orang “miskin”. Dimulai dengan sebuah simulasi yang menggambarkan perbedaan tersebut membuat para peserta menjadi memahami seberapa besar perbedaan dan perubahan “nasib” mereka dalam waktu 2 menit. Para peserta langsung mempraktekkan cara-cara yang perlu dilakukan untuk mengubah kehidupan mereka. Mereka jadi terlatih untuk lebih berani, inisiatif, dan mampu bernegosiasi dalam menyelesaikan tenggang waktu yang ada. Simulasi yang sederhana dan menyenangkan ini membuat para peserta menjadi lebih semangat dalam mengikuti acara ini.

Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi membagikannya secara fun dan aplikatif. Ada berbagai tips-tips sederhana dan video-video menarik yang menggambarkan berbagai figur yang sudah mempraktekkan cara hidup yang benar. Para peserta menjadi memahami bahwa cara hidup yang sederhana namun dilakukan secara terus menerus mampu membuat perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan mereka.


Public Workshop “Leading Gen-Y”

Shifthink kembali meluncurkan modul baru sebagai jawaban terhadap kondisi dan tantangan perubahan dalam lingkungan organisasi profesional. Pada bulan Februari 2015, Shifthink mengadakan public workshop “Leading Gen-Y” yang merupakan sebuah workshop 1 hari yang membahas bagaimana perubahan kultur kerja yang sedang terjadi dengan banjirnya SDM dengan usia Gen-Y di berbagai organisasi dan perusahaan.

Kelas “privat” ini sengaja dibuat dengan lebih banyak pembahasan kasus dan bagaimana menemukan solusi aplikatifnya yang bisa langsung segera dipraktekkan. Selama 4 sesi, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi menjelaskan bagaimana dan kenapa muncul angkatan Gen-Y dan apa pengaruh yang mereka bawa dalam lingkungan budaya kerja dalam organisasi.

Selain itu, peserta juga diajak untuk “membedah” bagaimana cara berpikir para Gen-Y dan tentunya, mereka juga diberikan sangat banyak tips penting untuk mengelola, menggerakkan, memotivasi, dan melakukan coaching terhadap karyawan angkatan Gen-Y. Bahkan, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi, juga membahas mengenai bagaimana kondisi general tingkat EQ angkatan Gen-Y yang terus menurun dan bagaimana melatih EQ mereka agar siap pakai dalam dunia kerja.

Selama 1 hari peserta dengan antusias berdiskusi dan menyodorkan berbagai kasus yang terjadi dalam lingkungan perusahaan mereka dan bersama-sama mempraktekkan bagaimana menerapkan coaching yang tepat untuk Gen-Y dan bagaimana membangun kultur kerja yang profesional namun mengakomodasi kultur yang dibawa oleh Gen-Y, sehingga tercipta produktifitas yang berlipat bagi organisasi untuk terus menang dalam kompetisi bisnis.


Seminar EQ “TerBang” – Semarang

Mengawali tahun 2015, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi mendapatkan sebuah kesempatan untuk memberikan sesi motivasi dan seminar EQ di Sekolah Terang Bangsa Semarang. Dalam kesempatan ini, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi berhadapan dengan lebih dari 2000 siswa Terang Bangsa dan selama 120 menit beliau secara interaktif, seru, dan sangat fun memberikan sesi inspirasi mengenai pentingnya untuk bisa melihat kualitas yang tersembunyi di dalam masing-masing pribadi.

Dengan pembawaan yang sangat kontekstual dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan anak muda, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi terus “membombardir” 2000 siswa Terang Bangsa dengan berbagai nilai-nilai kehidupan yang sangat inspiratif serta mendorong mereka untuk bangkit menjadi anak-anak muda yang lebih produktif untuk diri-sendiri dan lingkungannya.

Selain itu, di hari berikutnya, Master Trainer EQ  Indonesia, Josua Iwan Wahyudi juga berkesempatan memberikan sesi seminar EQ dan pembekalan untuk lebih dari 300 guru-guru sekolah Terang Bangsa. Melalui contoh-contoh yang sederhana dan aplikatif, sesi ini mampu meningkatkan ketertarikan setiap peserta untuk belajar EQ dan memotivasi mereka lebih lagi untuk berperan dalam meningkatkan kecerdasan emosi setiap siswa yang ada.

Dan, tidak ketinggalan juga, di hari terakhir, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi memberikan seminar EQ untuk para pengurus dan pengajar PAUD dari wilayah Jakarta Selatan yang sedang melakukan training dan pembekalan di Sekolah Terang Bangsa Semarang. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk menyadari proses pembentukan pola-pola emosi yang muncul sejak usia dini, sehingga peran PAUD dalam membangun EQ seorang anak menjadi sangat penting.


Seminar “CHANGE” with AIA

Menyongsong tahun 2015, AIA mengundang Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi untuk memberikan sesi inspirasi kepada 1300 pasukan Bancassurance AIA dari seluruh Indonesia! Dalam event yang berlokasi di grand ballroom Hotel Pullman pada tanggal 3 Desember 2014 ini, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi memberikan pencerahan mengenai kesiapan untuk selalu berkembang dan berubah mengikuti kecepatan perubahan zaman.

Dengan memaparkan contoh-contoh nyata yang terjadi, Master Trainer EQ Indonesia, Josua Iwan Wahyudi menunjukkan apa yang terjadi jika organisasi diisi oleh orang-orang yang tidak terbuka terhadap perubahan dan perkembangan situasi, dan lebih dari itu, beliau memberikan tips-tips aplikatif bagaimana agar setiap individu maupun secara organisasi, AIA siap untuk menerapkan perubahan-perubahan produktif tanpa terhambat oleh rintangan internal.

Dengan suasana dan atmosfir yang penuh antusiasme, 1300 peserta yang hadir, termasuk CEO dan juga Regional Director Asia Pacific, semuanya meresponi sesi ini dengan penuh semangat dan menunjukkan kesiapan mereka untuk berakselerasi dalam menyongsong tahun 2015.