3 Tanda Manajer Cerdas Emosi

Media online Norwich University mempublikasikan hasil pengumpulan data mereka, dan menyatakan bahwa para manajer hebat yang menjadi top performer di perusahaan mereka, ternyata 90% dari mereka memiliki kualitas kompetensi Kecerdasan Emosi (EQ) yang lebih tinggi dibandingkan para manajer pada umumnya.

Bahkan, perusahaan Pepsi yang melakukan survey internal dalam perusahaan mereka sendiri, menyatakan bahwa para manajer dan pemimpin yang secara konsisten terus mengembangkan Kecerdasan Emosi (EQ) mereka, menolong perusahaan untuk meningkatkan omzet tahunan hingga 15-20%.

Dan yang jauh lebih menarik lagi, hasil penelitian dari Gallup menunjukkan bahwa para manajer yang Kecerdasan Emosi (EQ)nya ‘payah’, mengakibatkan karyawan resign 4 kali lebih banyak dibandingkan jika perusahaan itu memiliki pemimpin-pemimpin yang lebih cerdas emosinya.

Kalau mau dituliskan lagi, masih begitu banyak hasil penelitian yang menguatkan kenyataan bahwa Kecerdasan Emosi berperan jauh lebih penting daripada IQ dan kecerdasan intelektual di dalam leadership.

Pertanyaannya, seperti apakah yang disebut dengan pemimpin cerdas emosi itu? Apa tandanya seorang pemimpin memiliki EQ yang baik?

Dalam tulisan kali ini, saya akan membahas beberapa indikator EQ yang bagus pada seorang pemimpin. Tidak akan cukup untuk dibahas seluruhnya, itu sebabnya saya hanya akan mengulas dengan singkat 3 indikator dasar saja.

 

SELF AWARENESS

Salah satu ciri seseorang yang memiliki Kecerdasan Emosi yang baik adalah dia memahami dirinya sendiri dengan sangat baik. Dia bisa mengerti bagaimana pola moodnya, apa yang menjadi dorongan motivasional untuk dirinya, dan apa kekuatan, kelebihan dan kelemahannya sendiri.

Dengan menyadari kualitas dirinya sendiri, dia dapat mengatur dirinya sendiri agar bisa berkarya sesuai dengan ‘spec’ yang ia miliki.

Para manajer yang cerdas emosi, tahu bagaimana dia menempatkan dirinya agar dia bisa berfungsi maksimal. Dia tahu hal-hal apa yang harus dia hindari agar tidak merusak moodnya. Dia tahu keadaan-keadaan apa yang bisa merusak performanya dan dia mengerti bagaimana untuk menyiasatinya.

Sungguh tidak banyak orang yang benar-benar mengerti mengenai dirinya sendiri. Bahkan, dalam kelas-kelas pelatihan yang saya adakan, lebih dari 80% orang tidak menyadari pola-pola perilakunya sendiri dan tidak mengerti apa yang mengganggu dan merusak produktifitasnya.

 

BATTLE MANAGEMENT

Seorang pemimpin yang baik, tahu ‘pertempuran’ mana yang perlu ia menangkan dan mana yang perlu ia lepaskan. Seringkali, kita harus membiarkan beberapa ‘pertempuran’ terlihat kalah, dalam rangka untuk memenangkan keseluruhan ‘peperangan’.

Misalnya, kadang-kadang kita perlu untuk terlihat ‘mengalah’ kepada bawahan kita demi untuk memenangkan hatinya sehingga ke depannya justru kita bisa menggerakkan dia untuk tujuan yang lebih besar. Para pemimpin ber’EQ tinggi tahu betul kapan harus berjuang dan ngotot, dan kapan harus melepas dan merelakan terlihat kalah.

Masih banyak para manajer yang tidak mau ‘win-win’ dan selalu maunya menang sendiri. Bahkan dalam hal-hal kecil yang sepele, banyak pemimpin tidak mau mengalah dan merasa harus didahulukan, dimenangkan, dan diutamakan terus-menerus.

Battle management adalah sebuah kompetensi yang membutuhkan ketenangan dan kematangan emosional yang tinggi karena biasanya, dalam sebuah perdebatan, perebutan, atau ‘pertempuran’, dorongan emosi kita begitu meluap-luap sulit dikendalikan. Namun para pemimpin cerdas emosi tahu betul bagaimana menjaga emosinya dan melihat keadaan dengan jernih.

 

EMOTIONAL MAKE UP

Emotional Make Up adalah sebuah kemampuan untuk mengolah emosi atau mood, supaya bisa dipakai untuk menampilkan sesuatu yang lebih produktif. Baik emosi yang terjadi dalam diri kita sendiri, maupun terutama emosi orang lain.

Sebagai contoh, jika ada seorang bawahan yang merasa tidak puas dengan rekan kerjanya karena merasa rekan kerjanya mendapat perlakukan yang lebih ‘dianak emaskan’ daripada dirinya. Seorang pemimpin ber’EQ tinggi akan mampu “mengolah” rasa tidak puas itu menjadi sebuah dorongan motivasional agar orang itu meningkatkan kinerjanya dengan lebih banyak lagi.

Inilah Emotional Make Up.

Tentunya untuk melakukan ini, sang manajer harus pandai membaca ‘tombol-tombol’ penggerak emosi bawahannya. Manajer itu harus empatik, peka dengan kecenderungan-kecenderungan bawahannya, dan mengerti bagaimana menggunakan bahasa yang tepat untuk melakukan ‘make up’ emosi kepada bawahannya yang sedang tidak puas tersebut.

Jika kita mengamati, biasanya para pemimpin-pemimpin hebat, memiliki 3 kemampuan EQ dasar ini dan mampu mengaplikasikannya dalam situasi-situasi yang tepat.

Jika Anda mau menjadi seorang pemimpin hebat dengan Kecerdasan Emosi yang tinggi, mulailah melatih diri di 3 area tersebut.

Selamat memimpin dengan cerdas emosi!


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.


Life Management Skill

Apa keahlian paling penting untuk memperoleh hidup yang sukses dan bahagia?

Berbagai seminar motivasi mengajarkan puluhan “syarat sukses” sampai kita bingung yang manakah yang benar. Yang lebih membingungkan lagi, apa yang diajarkan di sekolah dan pendidikan formal kita, sekitar 80%nya tidak lagi terpakai saat kita sudah dewasa dan menjalani hidup “sesungguh”nya.

Inilah yang membuat banyak orang terkejut oleh realita hidup. Karena justru hal-hal esensi yang dibutuhkan untuk kehidupan, malah tidak diajarkan dalam masa persiapan kita.

Semua keahlian esensi ini yang saya sebut sebagai “Life Management Skill”. Yaitu sebuah keahlian untuk mengelola hidup. Apa saja yang termasuk dalam “Life Management Skill” ini?

 

Consequential Thinking

Hidup ini berbicara soal pilihan. Banyak sekali orang yang belum menyadari bahwa hampir setiap detik mereka selalu membuat pilihan. Pola asuh dan kebudayaan lokal yang berbeda-beda di tiap tempat, menghasilkan sikap yang berbeda-beda pula dalam menyikapi pilihan.

Ada orang-orang yang mampu menyadari bahwa dialah sang penentu pilihan untuk hidupnya dan siap bertanggung jawab atas konsekuensi hasil pilihannya. Tetapi, cukup banyak orang (terutama di sekitar kita di Indonesia), yang merasa bahwa hidupnya dipilihkan oleh orang lain dan lantas merasa menjadi korban ketika pilihan itu menghasilkan konsekuensi yang buruk.

Dasar dari Life Management Skill adalah kesadaran bahwa kita bertanggung jawab untuk memilih dan bertanggung jawab untuk hasil konsekuensi dari pilihan kita. Ketika kita menyadari bahwa akibat-akibat dari pilihan kita bukan untuk disesali dan dijadikan bahan “baper”, tetapi justru menjadi sebuah tantangan untuk dihadapi, diatasi, dan dikelola, maka disinilah kita memasuki sebuah level life management yang sesungguhnya.

JIka Anda ingin memiliki kehidupan yang lebih bahagia dan produktif, mulailah melihat bahwa konsekuensi (baik ataupun buruk), hanyalah hasil/akibat dari pilihan-pilihan Anda. Pilihan Anda bisa salah, dan konsekuensinya bisa buruk, tetapi jika Anda mengelolanya dengan benar dan baik, hasilnya untuk hidup Anda, bisa saja menjadi baik dan produktif.

Seperti ungkapan bijak yang berkata, “Hidup itu 10% apa yang terjadi (apa yang Anda pilih), dan 90%nya adalah respon Anda terhadap apa yang terjadi itu (bagaimana Anda mengelola konsekuensi)”

Priority Management

Jangan berusaha mengelola waktu, karena Anda akan frustasi.

Sesungguhnya, waktu tidak bisa dikelola karena waktu adalah kedaulatan absolut Tuhan. Waktu tetap berjalan begitu saja, dengan atau tanpa Anda. Anda tak bisa menunda, tak bisa menghentikan, ataupun mempercepat. Anda hanya bisa mengikuti berjalan bersama waktu. Lalu, bagaimana Anda bisa mengatur-atur waktu?

Yang bisa Anda kelola adalah PRIORITAS hidup Anda.

Banyak orang gagal “mengelola waktu” karena ia gagal mengetahui apa yang menjadi prioritas hidupnya. Banyak orang menghabiskan waktu untuk tidur dan main game. Banyak orang tidak punya waktu untuk olahraga. Banyak orang kesulitan cari waktu untuk keluarganya. Itu semua terjadi karena mereka menetapkan prioritas hidup yang salah, atau mungkin bahwa tidak tahu apa yang menjadi prioritas hidupnya.

Maka Life Management dasar yang berikutnya adalah mengelola prioritas hidup kita. Waktu yang kita alokasikan, selalu mengikuti apa yang kita prioritaskan.

Seorang peserta kelas pelatihan menulis yang saya adakan berkata, “Saya kesulitan cari waktu untuk menulis nih pak…” Lalu saya menjawab, “Kita itu TIDAK PERNAH tidak punya waktu. Kita selalu punya waktu untuk sesuatu yang kita anggap penting (prioritas)”.

Masalahnya, apakah yang Anda anggap penting itu benar-benar penting?

Susun ulang prioritas hidup Anda. Caranya? Mulailah mendata dan membuat daftar, kemana Anda habiskan waktu-waktu Anda? Susunlah berdasarkan konsumsi waktu paling banyak, maka Anda akan mengetahui itulah prioritas-prioritas hidup Anda. Dari daftar itu, evaluasilah, apakah itu sungguh-sungguh yang terpenting, ataukah ada yang lebih penting yang Anda abaikan?

 

Relationship Management

Life Management Skill dasar yang ketiga adalah mengelola hubungan dengan orang lain. Kualitas hidup kita sangat ditentukan dari kualitas hubungan kita dengan orang lain. Baik dengan siapa-siapa kita berhubungan, maupun bagaimana kualitas hubungan itu dengan mereka.

Tuliskan 5-7 orang yang paling dekat dengan Anda dan lihatlah bagaimana kualitas orang-orang itu. Maka itulah gambaran kualitas hidup Anda. Jika nama-nama itu adalah nama-nama orang yang berkualitas tetapi hidup Anda masih “merosot”, maka cobalah teliti seperti apakah cara Anda merawat hubungan Anda dengan mereka.

Relationship management bukan melulu soal berteman dengan sebanyak mungkin orang, justru ini berbicara mengenai bagaimana Anda memilih siapa-siapa yang ada dalam lingkaran “support system” Anda, dan bagaimana langkah-langkah Anda dalam membangun lingkaran itu dan merawatnya.

Para orang hebat, tahu bagaimana melakukan ini dengan efektif. Itu sebabnya, banyak diantara mereka bukanlah orang yang “terhebat”, tetapi mereka dikelilingi oleh orang-orang yang bisa menolong mereka untuk menjadi yang “terhebat”.

 

Sayang sekali, Life Management Skill ini nyaris tak pernah diajarkan di dalam pendidikan-pendidikan formal kita. Padahal justru inilah kemampuan yang kita butuhkan. Belum terlambat untuk Anda mulai melatih Life Management Skill Anda dimulai dari sekarang.


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.


Entrepreneur VS Intrapreneur

Jika ditanya, salah satu keinginan terbanyak para karyawan “kantoran” adalah, segera resign, punya usaha sendiri, menjadi entrepreneur dan menjalani kehidupan yang “bebas” dan “sukses”.

Seorang teman pernah berkata, “lebih baik menjadi kepala ayam, daripada menjadi ekor naga!”

Itu adalah sebuah ungkapan yang artinya, lebih baik punya usaha kecil-kecilan tetapi menjadi bosnya, daripada menjadi karyawan di perusahaan besar tetapi tetaplah “bekerja pada orang”.

Sungguhkah entrepreneur lebih baik daripada kerja kantoran? Bagaimana kalau perbandingannya menjadi kepala ayam vs menjadi leher naga? Punya resto kecil-kecilan vs menjadi CEO sebuah perusahaan multinasional?

Banyak sekali karyawan yang menggebu-gebu ingin menjadi entrepreneur, tanpa mengetahui sebuah fakta bahwa: ENTREPRENEURSHIP BUKAN UNTUK SEMUA ORANG!

Ada alasannya kenapa angka wirausaha di Indonesia hanyalah 3,1% dari seluruh populasi.  Artinya, dari 33 orang, hanya 1 yang bisa menjadi seorang entrepreneur. Bahkan di negara maju saja, angka entrepreneurship tidak lebih dari 15%.

Statistik ini menunjukkan, bahwa dengan sekedar mengikuti training, seminar motivasi, dan “personal coaching”, tidak menjamin Anda bisa menjadi seorang entrepreneur karena sekali lagi, entrepreneurship bukan untuk semua orang!

Dan siapa bilang, menjadi pengusaha adalah level kesuksesan yang lebih baik dibanding menjadi karyawan “kantoran”? Begitu bias dan kacaunya definisi kesuksesan yang ada di dunia, sampai kita jadi bingung sendiri dan terjebak kepada berbagai stigma bahwa untuk sukses semua orang harus jadi entrepreneur. Padahal, memang ada orang-orang yang tidak ‘fit’ untuk menjadi entrepreneur dan ketika dia memaksakan diri, dia malah bisa menghancurkan masa depannya sendiri.

Stigma bahwa entrepreneur lebih baik dari intrapreneur (pekerja “kantoran) menciptakan beban rasa bersalah dan beban tuntutan seumur hidup bagi para karyawan yang belum (dan akhirnya tidak) berhasil menjadi seorang wirausahawan. Mereka selalu menganggap diri mereka lebih rendah kastanya setiap kali ketemu orang-orang yang sudah menjadi wirausahawan.

Padahal, sungguhkah entrepreneur selalu lebih baik hidupnya dari intrapreneur?

Hidup ini soal pilihan dan bagaimana kita mengelola (manage) semua konsekuensi-konsekuensi dari pilihan kita. Kuncinya terletak di kemampuan “life management” kita. Entrepreneur atau intrapreneur hanyalah pilihan hidup yang membawa keuntungan dan kekurangannya masing-masing.

Tidak ada pilihan yang lebih baik. Yang ada hanyalah pilihan yang LEBIH PRODUKTIF. Untuk saya, mungkin menjadi entrepreneur adalah  pilihan yang lebih produktif, tetapi bagi Anda bisa jadi malah merupakan pilihan yang kontra produktif. Atau sebaliknya.

Karena itu, penting untuk Anda mengetahui tipikal dan profil diri Anda sendiri, supaya Anda bisa menentukan apakah menjadi entrepreneur akan membuat Anda menjadi lebih produktif dala  melakukan “life management” ataukah jangan-jangan menjadi intrapreneur justru pilihan yang lebih produktif bagi Anda?

Saya mengenal seorang programmer handal. Dia bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji yang cukup tinggi. Karena keahliannya yang handal, akhirnya banyak orang yang memberinya “project pribadi”. Melihat hal ini, ia berpikir, sudah saatnya dia berhenti kerja dan mulai membuka software house’nya sendiri.

Akhirnya ia memberanikan diri untuk resign dan mulai menapak kaki untuk memiliki usaha sendiri (walaupun saat itu dia masih satu-satunya karyawan untuk dirinya sendiri). Namun apa yang terjadi? Tanpa lingkungan kerja “kantoran”, dia gagal untuk mengelola waktu, mengelola prioritas, dan banyak deadline kerja yang terbengkalai sehingga project’nya banyak yang gagal.

Singkat cerita, ia kemudian kembali bekerja “kantoran” dan hingga kini ia masih berprofesi sebagai karyawan. Performanya justru semakin bagus. Atasannya memberikan kebebasan jam kerja dan berbagai bonus tambahan untuk performanya yang baik. Rupanya, pola kerja intrapreneur membuatnya lebih produktif untuk mengelola hidupnya dibandingkan dengan menjadi seorang entrepreneur.

Tentu saja, Anda bisa berkata “Ah itu mah orangnya aja yang kurang disiplin”. Itu betul.

Tetapi, untuk melatih disiplin, ada orang-orang tertentu yang membutuhkan lingkungan pendukung (misalnya pola kerja “kantoran”?). Inilah yang saya sebut bahwa entrpreneurship bukan untuk semua orang.

Sukses itu bukan terletak apakah Anda berhasil menjadi pengusaha atau tidak. Tetapi terletak pada bagaimana Anda mampu mengatur hidup Anda, sehingga Anda memiliki kehidupan yang berkualitas, karya yang berdampak, dan memberi nilai bagi orang-orang di sekitar kita. Itu bisa dilakukan baik sebagai entrepreneur maupun sebagai intrapreneur, tergantung mana yang lebih produktif untuk profil tipikal Anda.


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.


DNA Entrepreneur

“Entrepreneurship bukanlah untuk semua orang.”

Kalau Anda kebetulan pernah menghadiri seminar motivasi atau kelas-kelas training dimana pembicaranya berkata “Asalkan ada niat dan tahu caranya, semua orang bisa menjadi entrepreneur!”, menurut saya, itu sebuah kalimat yang cacat logika.

Statistik menunjukkan bahwa angka entrepreneurship di Indonesia tahun 2017, adalah 3,1% dan di negara-negara maju berkisar sekitar 8-13%.

Artinya, di Indonesia, dari 33 orang hanya 1 yang berkemungkinan menjadi entrepreneur. Sedangkan di negara-negara maju, dari 33 orang, paling banyak 5 orang saja yang berpeluang menjadi entrepreneur.

Statistik jelas-jelas menyatakan bahwa entrepreneurship BUKAN UNTUK SEMUA ORANG.

Lalu, secara “hukum alam” sendiri, dibutuhkan lebih banyak karyawan ketimbang entrepreneur. Karena setiap 1 orang pemilik usaha membutuhkan minimal 1 orang juga untuk menjadi karyawannya dia. Semakin besar usahanya, semakin banyak pula karyawan yang dia butuhkan untuk bekerja kepadanya.

Kalau semua orang menjadi entrepreneur, lalu siapa yang jadi karyawannya? Kalau 50% populasi menjadi entrepreneur, maka dengan sendirinya itu keadaan itu akan membunuh entrepreneurship karena kekurangan tenaga kerja untuk menjadi karyawan. Maka, memang sudah menjadi “hukum alam” bahwa jumlah entrepreneur selalu jauh lebih kecil dari jumlah karyawan “yang kerja sama orang”.

Maka, memberikan harapan palsu dengan kata-kata “Semua orang bisa menjadi entrepreneur!” adalah sebuah dorongan motivasional yang berbahaya sekaligus kejam. Saya sebut kejam karena memberikan iming-iming palsu tanpa membuka semua fakta kebenarannya.

Dan karena entrepreneurship bukan untuk semua orang, itu sebabnya, Founder Institute, salah satu lembaga pendidikan Start Up yang cukup ternama dari Amerika dan sudah memiliki perwakilan di berbagai kota besar dunia, mencetuskan istilah “DNA Entrepreneur”. Artinya, orang-orang yang menjadi entrepreneur sukses biasanya memiliki ciri-ciri yang mirip.

Akan sangat panjang untuk membahas keseluruhan detail DNA Entrepreneurship ini. Di artikel kali ini, saya hanya akan memaparkan secara singkat, 3 indikator dasar untuk memeriksa apakah di dalam diri kita ada “bakat” seorang entrepreneur. Mari kita mulai!

EMOTIONAL STABILITY

Dunia wirausaha adalah dunia yang penuh gejolak, perubahan, dan sangat dinamis. Banyak hal-hal diluar prediksi yang bisa terjadi dan seringkali kita akan berhadapan dengan situasi-situasi yang tidak jelas namun membutuhkan keputusan yang cepat dan tegas.

Disinilah Kecerdasan Emosi (EQ) menjadi penting, karena dibutuhkan orang yang memiliki ketenangan emosional. Entrepreneur sejati adalah orang yang berhati-hati, sekaligus berani. Artinya, dia bisa mengambil keputusan yang teguh dengan cepat namun sekaligus juga sudah memperhitungkan konsekuensinya.

Dan yang menarik, sebagian besar entrepreneur sukses adalah orang-orang yang tidak kehilangan ketenangannya meski sedang menghadapi krisis maupun keadaan-keadaan sulit di luar perkiraan. Itu sebabnya, mereka mampu menghadapi resiko dan ancaman dengan tetap tenang tanpa kehilangan pemikirannya.

Seorang entrepreneur adalah orang yang bisa hidup dalam ketidakpastian dan bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan yang dinamis. Apalagi jika kita berbicara mengenai masa-masa perintisan, ketidakpastian income, keadaan yang penuh kejutan ini itu, semuanya harus dihadapi dengan tanpa kehilangan optimisme.

Banyak sekali orang yang batal menginjakkan kaki menjadi wirausahawan lantaran mereka ingin kepastian. Mereka tidak tahan hidup tanpa fix income tiap bulan. Mereka kewalahan menghadapi stok barang yang menumpuk tanpa tahu kapan bisa terjual. Mereka terkaget-kaget dengan perubahan situasi pasar yang tiba-tiba lesu dan hilang tren. Mereka bingung ketika semua cara sudah dilakukan tapi hasilnya tak kunjung nampak.

Dibutuhkan sebuah “kematangan” emosional tersendiri untuk bisa menghadapi situasi-situasi semacam ini. Apakah Anda bisa hidup dalam keadaan-keadaan tersebut?

 

SELF DRIVEN

Seorang entrepreneur adalah orang yang bisa memacu dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan orang lain untuk menyuruhnya bekerja. Ia mampu membangun disiplinnya sendiri.

Cobalah tengok para entrepreneur sejati yang memulai usaha mereka dari nol seorang diri. Mereka punya disiplin kebiasaan yang dibangun dengan konsisten. Mereka bangun pagi tanpa diminta. Mereka lembur jika diperlukan tanpa harus disuruh. Mereka tahu hal-hal apa yang harus dikerjakan untuk supaya berhasil. Mereka tidak mudah kehilangan mood dan bisa konsisten bekerja secara ulet dan tekun.

Jika Anda jenis orang yang membutuhkan orang lain untuk menyemangati Anda. Jika Anda butuh disuruh-suruh dan diingatkan agar bisa produktif. Atau, jika Anda butuh lingkungan yang teratur, jelas, dan membutuhkan sistem pengingat agar Anda bisa bekerja maksimal, maka kemungkinan Anda akan sulit hidup di dalam dunia entrepreneurship.

Karena dunia entrepreneurship membutuhkan orang-orang yang bisa “membangkitkan” etos kerja dari dalam dirinya sendiri. Dan lagi-lagi, trait “self driven” ini juga adalah bagian dari Kecerdasan Emosi (EQ).

 

SOCIAL SMART

Para entrepreneur yang berhasil adalah orang-orang yang fleksibel dan fasih dalam membangun komunikasi dan hubungan dengan orang lain.

Banyak orang berpikir, kalau mau punya usaha kuliner, maka kita harus ahli memasak atau setidaknya ahli dalam dunia kuliner. Atau, jika mau punya usaha bengkel, maka kita haruslah orang yang mengerti dan ahli tentang mesin otomotif.

Kita pikir, keahlian teknis adalah hal terpenting yang membuat usaha kita berhasil. Namun  kenyataannya, justru di luar itu, ada hal yang lebih penting lagi. Yaitu: relasi dan koneksi.

Sebuah usaha yang berhasil bukan cuma karena produk atau jasanya yang bagus. Tetapi, juga karena adanya jaringan relasi dan koneksi yang luas dan kuat. Disinilah kemampuan untuk membangun komunikasi dan hubungan menjadi hal yang sangat penting.


Nah, bagaimana kalau Anda tidak memiliki ketiga hal di atas? Apakah itu artinya Anda harus mengurungkan niat sebagai entrepreneur?

Begini, masih ada beberapa indikator lain yang harus kita periksa. Namun, jika Anda lemah pada 3 indikator di atas, maka memang sebaiknya Anda mempertimbangkan ulang untuk memilih jalur entrepreneur. Karena, toh kesuksesan hidup bukan diukur apakah Anda menjadi entrepreneur atau tidak.

Lalu, beruntungnya kita hidup di era modern yang membuka berbagai kemungkinan yang luas. Di era bisnis modern sekarang ini, jika kita lemah dalam beberapa hal, sebenarnya kita bisa bekerja sama dengan orang lain untuk memulai bisnis bersama-sama. Namun, “join kongsi” ini pun juga memiliki keuntungan dan kelemahannya. Di artikel yang lain saya akan membahas soal ini.

Menutup artikel ini, hal penting yang ingin saya sampaikan adalah: Tuhan menciptakan kita unik dan berbeda-beda. Jalur kesuksesan seseorang belum tentu menjadi jalur kesuksesan untuk kita. Artinya, belum tentu entrepreneurship adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan dan kebahagiaan hidup. Jangan terbebani HARUS menjadi entrepreneur hanya karena ajaran-ajaran “ngawur” dari beberapa orang yang mengharuskan Anda menjadi wirausahawan.

Mengenali diri-sendiri dan memaksimalkan potensi kita, itulah yang lebih penting. Percayalah kepada Tuhan yang menciptakan diri Anda dengan kelebihan yang Anda miliki. Entrepreneurship hanyalah satu dari sekian opsi yang terbentang. Pilihlah mana yang paling produktif untuk Anda.


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.


Career Killer

 

“Cara Cepat Untuk Naik Jabatan! (dan Gaji!)”

Begitulah kurang lebih judul seminarnya. Tapi sayang, ketika dihadiri dan disimak, ternyata pemaparan yang diberikan tidaklah sebanding dengan kehebohan judulnya, karena kata “cepat” itu sendiri memanglah relatif. Cepat bagi si pembicara belum tentu cepat menurut saya.

Tetapi pertanyaannya, sungguhkah ada cara yang (setidaknya) bisa mempercepat laju karir “kantoran” kita?

Jika Anda benar-benar mengamati, sebenarnya memang ada beberapa orang (lebih tepatnya, sedikit orang) yang mengalami kenaikan jabatan lebih cepat dibandingkan orang-orang pada umumnya. Salah satu strategi mereka adalah, berpindah-pindah perusahaan. Jika perlu, berpindah fungsi jabatan, yang penting gaji dan level jabatannya naik.

Saya tidak akan membahas soal pindah memindah ini. Saya akan menulis artikel lain soal ini.

Dalam tulisan kali ini, saya lebih ingin membahas, apa yang membuat seseorang mengalami “stuck” dalam karirnya. Sudah bekerja begitu lama, tetapi level pertumbuhannya hanyalah rata-rata (baik secara tingkat jabatan maupun gaji), atau bahkan malah minim.

Hampir seluruh karyawan “kantoran” yang saya jumpai, memiliki mentalitas dan cara pandang yang mirip-mirip dalam bekerja. Inilah yang membuat mereka kemudian masuk dalam golongan “average” itu. Inilah yang saya sebut dengan keadaan “Career Killer”, yaitu sikap, tindakan, dan cara pandang yang tanpa mereka sadari sudah membunuh perkembangan karir mereka sendiri.

Dalam tulisan ini, tidak semua bisa saya bahas karena akan menjadikan artikel ini terlalu panjang. Saya akan mencoba membahas 2 hal yang paling mendasar dan paling “killer” lebih dulu:

 

Auto Pilot Attitude

“Bertambahnya usia membuat Anda menjadi makin tua, tapi tidak menjamin Anda menjadi makin dewasa”

Pernah mendengar quotes bijaksana ini?

Di dalam hidup ini, ada hal-hal yang secara pasti akan meningkat dengan bertambahnya durasi/waktu. Salah satunya usia. Tetapi, kalau kita berbicara kapasitas, keahlian, dan kompetensi, aturan ini tidaklah berlaku (atau setidaknya tidak berlaku kepada sangat banyak hal).

Banyak karyawan yang berpikir, kalau mereka bekerja dalam kurun waktu yang lama, maka otomatis mereka cepat atau lambat akan naik jabatan dan naik gaji. Makin lama waktu yang didekikasikan, harusnya makin banyak pertambahannya. Itu sebabnya, kemudian banyak orang bekerja secara “auto pilot”, alias cuma melakukan rutinitas seadanya dan menjalankan “program” sehari-hari mereka sambil berharap karir mereka akan terus meningkat seiring waktu.

Masalahnya, hampir seluruh tempat kerja kita, bukanlah non-profit organization. Sebagus-bagusnya visi dan value sebuah perusahaan, tetaplah mereka profit-based organization. Artinya, mereka membutuhkan orang-orang yang bisa “make money” untuk perusahaan mereka. Maka, disinilah dituntut kompetensi, keahlian, dan performa kinerja yang setinggi-tingginya.

“Wah… Berarti kita ini cuma sapi perah ya…” Jika itu kalimat yang muncul di kepala Anda, saya exact akan membahas soal ini di poin kedua nanti.

Lanjut lagi. Kompetensi dan kinerja, tidak nongol begitu saja. Semuanya harus DIUSAHAKAN. Perlu pembelajaran, latihan, disiplin, dan niat untuk mewujudkannya. Anda tidak bisa memperoleh semua itu hanya dengan sekedar “auto pilot” setiap hari.

Sayangnya, ada begitu banyak karyawan yang masih tidak menyadari ini. Tapi bagi sebagian kecil yang memahami prinsip ini, mereka melatih diri dan mengembangkan diri sehingga memiliki keunggulan dibanding orang lain. Dan ketika perusahaan melihat orang-orang yang “stand out” ini, tidak heran kemudian mereka mengangkat orang-orang ini menjadi pemimpin dan menaikkan gaji mereka, karena mereka menyumbang kontribusi lebih banyak dari orang lain pada umumnya.

Kuncinya disini adalah, niat dan keinginan untuk mengembangkan diri menjadi lebih kompeten dari orang lain. Jika memang Anda serius ingin karir Anda lebih baik, tinggalkan budaya “auto pilot” Anda.

 

Self Slavery Attitude

Sikap “pembunuh karir” berikutnya adalah sikap atau mentalitas budak.

Bagaimana perusahaan memandang Anda tidaklah lebih penting daripada bagaimana Anda memandang diri Anda sendiri.

Banyak karyawan menganggap diri mereka sebagai “sapi perah”, “orang bawah”, “pion catur”, “budak jajahan”. JIka Anda memandang diri Anda sendiri seperti itu, maka tidak heran kelakuan Anda menjadi seperti itu.

Tidak peduli apa pandangan orang lain (dan perusahaan atau bos Anda) kepada Anda, Anda harus tetap bisa melihat diri Anda adalah orang yang berharga, dengan begitu sikap dan tindakan Anda akan menjadi berbeda. Tindakan yang berbeda itulah yang mengantarkan karir Anda meningkat (kalau bukan di perusahaan yang sekarang ini, pasti ada perusahaan lain yang bisa melihat potensi Anda).

Ketika kita memposisikan diri menjadi korban, sebenarnya kita sedang memperbudak diri-sendiri. Dan setiap karyawan yang bermental budak, akan menerima perlakukan “perbudakan” dari perusahaan dan atasan mereka. Bukan salah perusahaannya atau bos Anda, tetapi karena Anda sendiri yang memposisikan diri sebagai budak jajahan.

Salah satu ciri paling utama yang menunjukkan bahwa kita bermental budak jajahan adalah: baru bertindak kalau disuruh. Tidak ada seorang budak yang memiliki INISIATIF. Inisiatif hanya dimiliki oleh para innovator, orang yang hidupnya terus berkembang.

Sementara, di berbagai tempat kerja, dengan mudah kita menjumpai orang-orang yang hanya bekerja kalau ada atasannya. Baru bekerja kalau diperintah dan disuruh. Baru mau bergerak kalau dimarahi dan diancam-ancam. Baru serius kalau dipotong gajinya. Artinya, dari perilaku mereka ini, mereka sendiri yang meminta untuk “dijajah”.

Sekali lagi, jika Anda serius ingin mengalami peningkatan karir, berhentilah memposisikan diri sebagai sapi perah. Mulailah berinisiatif untuk berkarya tanpa diminta dan disuruh. Tunjukkan kualitas Anda yang sesungguhnya. Bagaimanapun, orang yang berkualitas akan segera bertemu dengan orang-orang yang akan bisa menghargai kualitas itu.

Tetapi jika Anda terus-menerus memposisikan diri sebagai “budak jajahan”, maka sampai selamanya, orang-orang akan terus memperlakukan Anda sebagai “budak jajahan”.

Selamat berkarir!


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.