DNA Entrepreneur

“Entrepreneurship bukanlah untuk semua orang.”

Kalau Anda kebetulan pernah menghadiri seminar motivasi atau kelas-kelas training dimana pembicaranya berkata “Asalkan ada niat dan tahu caranya, semua orang bisa menjadi entrepreneur!”, menurut saya, itu sebuah kalimat yang cacat logika.

Statistik menunjukkan bahwa angka entrepreneurship di Indonesia tahun 2017, adalah 3,1% dan di negara-negara maju berkisar sekitar 8-13%.

Artinya, di Indonesia, dari 33 orang hanya 1 yang berkemungkinan menjadi entrepreneur. Sedangkan di negara-negara maju, dari 33 orang, paling banyak 5 orang saja yang berpeluang menjadi entrepreneur.

Statistik jelas-jelas menyatakan bahwa entrepreneurship BUKAN UNTUK SEMUA ORANG.

Lalu, secara “hukum alam” sendiri, dibutuhkan lebih banyak karyawan ketimbang entrepreneur. Karena setiap 1 orang pemilik usaha membutuhkan minimal 1 orang juga untuk menjadi karyawannya dia. Semakin besar usahanya, semakin banyak pula karyawan yang dia butuhkan untuk bekerja kepadanya.

Kalau semua orang menjadi entrepreneur, lalu siapa yang jadi karyawannya? Kalau 50% populasi menjadi entrepreneur, maka dengan sendirinya itu keadaan itu akan membunuh entrepreneurship karena kekurangan tenaga kerja untuk menjadi karyawan. Maka, memang sudah menjadi “hukum alam” bahwa jumlah entrepreneur selalu jauh lebih kecil dari jumlah karyawan “yang kerja sama orang”.

Maka, memberikan harapan palsu dengan kata-kata “Semua orang bisa menjadi entrepreneur!” adalah sebuah dorongan motivasional yang berbahaya sekaligus kejam. Saya sebut kejam karena memberikan iming-iming palsu tanpa membuka semua fakta kebenarannya.

Dan karena entrepreneurship bukan untuk semua orang, itu sebabnya, Founder Institute, salah satu lembaga pendidikan Start Up yang cukup ternama dari Amerika dan sudah memiliki perwakilan di berbagai kota besar dunia, mencetuskan istilah “DNA Entrepreneur”. Artinya, orang-orang yang menjadi entrepreneur sukses biasanya memiliki ciri-ciri yang mirip.

Akan sangat panjang untuk membahas keseluruhan detail DNA Entrepreneurship ini. Di artikel kali ini, saya hanya akan memaparkan secara singkat, 3 indikator dasar untuk memeriksa apakah di dalam diri kita ada “bakat” seorang entrepreneur. Mari kita mulai!

EMOTIONAL STABILITY

Dunia wirausaha adalah dunia yang penuh gejolak, perubahan, dan sangat dinamis. Banyak hal-hal diluar prediksi yang bisa terjadi dan seringkali kita akan berhadapan dengan situasi-situasi yang tidak jelas namun membutuhkan keputusan yang cepat dan tegas.

Disinilah Kecerdasan Emosi (EQ) menjadi penting, karena dibutuhkan orang yang memiliki ketenangan emosional. Entrepreneur sejati adalah orang yang berhati-hati, sekaligus berani. Artinya, dia bisa mengambil keputusan yang teguh dengan cepat namun sekaligus juga sudah memperhitungkan konsekuensinya.

Dan yang menarik, sebagian besar entrepreneur sukses adalah orang-orang yang tidak kehilangan ketenangannya meski sedang menghadapi krisis maupun keadaan-keadaan sulit di luar perkiraan. Itu sebabnya, mereka mampu menghadapi resiko dan ancaman dengan tetap tenang tanpa kehilangan pemikirannya.

Seorang entrepreneur adalah orang yang bisa hidup dalam ketidakpastian dan bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan yang dinamis. Apalagi jika kita berbicara mengenai masa-masa perintisan, ketidakpastian income, keadaan yang penuh kejutan ini itu, semuanya harus dihadapi dengan tanpa kehilangan optimisme.

Banyak sekali orang yang batal menginjakkan kaki menjadi wirausahawan lantaran mereka ingin kepastian. Mereka tidak tahan hidup tanpa fix income tiap bulan. Mereka kewalahan menghadapi stok barang yang menumpuk tanpa tahu kapan bisa terjual. Mereka terkaget-kaget dengan perubahan situasi pasar yang tiba-tiba lesu dan hilang tren. Mereka bingung ketika semua cara sudah dilakukan tapi hasilnya tak kunjung nampak.

Dibutuhkan sebuah “kematangan” emosional tersendiri untuk bisa menghadapi situasi-situasi semacam ini. Apakah Anda bisa hidup dalam keadaan-keadaan tersebut?

 

SELF DRIVEN

Seorang entrepreneur adalah orang yang bisa memacu dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan orang lain untuk menyuruhnya bekerja. Ia mampu membangun disiplinnya sendiri.

Cobalah tengok para entrepreneur sejati yang memulai usaha mereka dari nol seorang diri. Mereka punya disiplin kebiasaan yang dibangun dengan konsisten. Mereka bangun pagi tanpa diminta. Mereka lembur jika diperlukan tanpa harus disuruh. Mereka tahu hal-hal apa yang harus dikerjakan untuk supaya berhasil. Mereka tidak mudah kehilangan mood dan bisa konsisten bekerja secara ulet dan tekun.

Jika Anda jenis orang yang membutuhkan orang lain untuk menyemangati Anda. Jika Anda butuh disuruh-suruh dan diingatkan agar bisa produktif. Atau, jika Anda butuh lingkungan yang teratur, jelas, dan membutuhkan sistem pengingat agar Anda bisa bekerja maksimal, maka kemungkinan Anda akan sulit hidup di dalam dunia entrepreneurship.

Karena dunia entrepreneurship membutuhkan orang-orang yang bisa “membangkitkan” etos kerja dari dalam dirinya sendiri. Dan lagi-lagi, trait “self driven” ini juga adalah bagian dari Kecerdasan Emosi (EQ).

 

SOCIAL SMART

Para entrepreneur yang berhasil adalah orang-orang yang fleksibel dan fasih dalam membangun komunikasi dan hubungan dengan orang lain.

Banyak orang berpikir, kalau mau punya usaha kuliner, maka kita harus ahli memasak atau setidaknya ahli dalam dunia kuliner. Atau, jika mau punya usaha bengkel, maka kita haruslah orang yang mengerti dan ahli tentang mesin otomotif.

Kita pikir, keahlian teknis adalah hal terpenting yang membuat usaha kita berhasil. Namun  kenyataannya, justru di luar itu, ada hal yang lebih penting lagi. Yaitu: relasi dan koneksi.

Sebuah usaha yang berhasil bukan cuma karena produk atau jasanya yang bagus. Tetapi, juga karena adanya jaringan relasi dan koneksi yang luas dan kuat. Disinilah kemampuan untuk membangun komunikasi dan hubungan menjadi hal yang sangat penting.


Nah, bagaimana kalau Anda tidak memiliki ketiga hal di atas? Apakah itu artinya Anda harus mengurungkan niat sebagai entrepreneur?

Begini, masih ada beberapa indikator lain yang harus kita periksa. Namun, jika Anda lemah pada 3 indikator di atas, maka memang sebaiknya Anda mempertimbangkan ulang untuk memilih jalur entrepreneur. Karena, toh kesuksesan hidup bukan diukur apakah Anda menjadi entrepreneur atau tidak.

Lalu, beruntungnya kita hidup di era modern yang membuka berbagai kemungkinan yang luas. Di era bisnis modern sekarang ini, jika kita lemah dalam beberapa hal, sebenarnya kita bisa bekerja sama dengan orang lain untuk memulai bisnis bersama-sama. Namun, “join kongsi” ini pun juga memiliki keuntungan dan kelemahannya. Di artikel yang lain saya akan membahas soal ini.

Menutup artikel ini, hal penting yang ingin saya sampaikan adalah: Tuhan menciptakan kita unik dan berbeda-beda. Jalur kesuksesan seseorang belum tentu menjadi jalur kesuksesan untuk kita. Artinya, belum tentu entrepreneurship adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan dan kebahagiaan hidup. Jangan terbebani HARUS menjadi entrepreneur hanya karena ajaran-ajaran “ngawur” dari beberapa orang yang mengharuskan Anda menjadi wirausahawan.

Mengenali diri-sendiri dan memaksimalkan potensi kita, itulah yang lebih penting. Percayalah kepada Tuhan yang menciptakan diri Anda dengan kelebihan yang Anda miliki. Entrepreneurship hanyalah satu dari sekian opsi yang terbentang. Pilihlah mana yang paling produktif untuk Anda.


 

Josua Iwan Wahyudi (JIW) adalah satu dari sangat sedikit pakar Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia dan merupakan Master Trainer EQ yang berpengalaman lebih dari 10 tahun memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, organisasi, kampus, dan sekolah. Beliau merupakan International Certified EQ Trainer termuda di Indonesia dari Six Seconds International dan merupakan International Certified EQ-i Coach dari Reuben Bar-On. Selain pernah dipercaya menjadi EQ Coach untuk finalis Indonesian Idol 2012,2014, & 2018, serta menjadi EQ Coach untuk Miss Indonesia 2015, sampai kini beliau masih aktif untuk mengajar Kecerdasan Emosi (EQ) untuk berbagai level audiens dan sudah menulis 37 buku! Bahkan, buku “E-Factor” yang beliau tulis, menjadi buku EQ paling aplikatif yang pernah ada di Indonesia.

bagikan info menarik ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *