AHOK: EQ’nya Tinggi atau Jongkok?

Sejak awal terpilih menjadi wakil gubernur DKI, gaya kepemimpinan Basuki Tjahya Purnama atau khas dipanggil Ahok sudah menuai pro dan kontra. Penggunaan kata-kata yang frontal, tanpa “polesan” sedikitpun dan tidak jarang dibumbui dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajah yang “menyala-nyala” membuat banyak masyarakat kita yang shock karena seolah sangat tidak mewakili ke”timur”an kita.

Namun, di satu sisi, banyak juga yang senang dan mendukung gaya Ahok karena sebenarnya semua yang disampaikan dan dilakukan Ahok mungkin mewakili isi hati dan bentuk perilaku yang ingin mereka ungkapkan, tapi tak punya kesempatan. Sehingga, ketika ada seorang Ahok yang tanpa “babibu” menghajar siapapun yang menurutnya tidak benar, sebagian orang merasa terpuaskan akhirnya ada yang bisa melakukan itu.

Artikel saya kali ini sama sekali tidak akan membahas apakah gaya Ahok itu benar atau salah. Terlalu banyak perdebatan tiada akhir yang sudah membahas hal itu.

Sebagai seorang pakar Kecerdasan Emosi (EQ), justru ada sisi yang lebih menarik untuk dibahas, yaitu, dengan gaya komunikasi dan kepemimpinan yang diterapkan Ahok, apakah dia bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) tinggi? Atau malah sebaliknya?

.

MISPERSEPSI EQ

Untuk bisa menyebut seseorang pintar, kita harus punya pemahaman dan indikator seperti apa pintar itu. Untuk bisa menyebut seseorang cantik, kita harus punya pemahaman dan indikator seperti apa cantik itu. Dan begitu pula dengan Kecerdasan Emosi (EQ), untuk bisa menyebut seseorang EQ’nya tinggi atau rendah, kita juga harus memahami lebih dulu apakah Kecerdasan Emosi (EQ) itu dan apa indikator-indikatornya. (Baca tulisan saya “3 tanda Kecerdasan Emosi (EQ) yang baik”).

Masih banyak orang yang memahami Kecerdasan Emosi (EQ) dengan indikator sabar, baik hati, tidak mudah marah, santun, dan kalem. Jika pemahaman kita seperti itu, maka dengan cepat kita akan menyimpulkan Ahok EQ’nya sangat buruk.

Namun, pemahaman di atas BUKANLAH pemahaman EQ yang benar.

Seperti yang selalu saya jelaskan dalam seminar, workshop, dan training EQ yang saya bawakan, Kecerdasan Emosi (EQ) berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk MENYADARI semua perasaan yang muncul dalam dirinya (maupun orang lain) dan MENGGUNAKANNYA untuk hasil akhir yang PRODUKTIF! Inilah definisi Kecerdasan Emosi (EQ) yang paling simpel dan aplikatif menurut saya.

Contoh, jika seseorang sedang merasa marah, maka jika orang itu cerdas emosi, dia akan SADAR bahwa dia sedang marah, tahu kenapa alasan dia menjadi marah, dan tahu apa saja yang bisa terjadi jika dia marah. Artinya, orang ini AWARE dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi ketika dia marah.

Sebaliknya, jika orang itu buruk EQ’nya, ketika dia marah, mungkin bahkan dia sudah kehilangan separuh AWARENESSnya karena perasaan marahnya sudah meluap-luap dan membuatnya “tertutup” dari kesadaran akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika dia marah.

Inilah yang terjadi pada kasus-kasus yang kita jumpai dalam acara-acara kriminal di televisi, dimana sebagian besar pelaku pembunuhan atau kekerasan bahkan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan “khilaf” atau “hilang sesaat” akibat dorongan emosi yang terlalu kuat. Sehingga, emosinya mengalahkan kesadarannya. Pada titik ini, bahkan biasanya kita kehilangan AWARENESS kita terhadap situasi sekitar kita, apa-apa yang sedang terjadi, dan (apalagi) apa-apa yang bisa terjadi di kemudian hari.

.

MENGGUNAKAN UNTUK PRODUKTIFITAS

Selain menjaga kesadaran (awareness) terhadap diri-sendiri dan sekitarnya, orang yang Ber’EQ tinggi juga mampu mengolah, mengatur, dan MENGGUNAKAN atau MEMBERDAYAKAN perasaan yang dia alami maupun orang lain alami untuk mencapai sebuah hasil yang ia anggap PRODUKTIF. Tentu saja ukuran produktif ini berbeda-beda pada tiap orang, tapi at least, kalau seseorang masih sempat berpikir mengenai hasil yang produktif, yaitu hasil yang terbaik dari berbagai kemungkinan hasil yang ada, maka itu artinya dia masih dalam kondisi AWARE (sadar).

Maka, untuk mencapai kondisi hasil akhir yang produktif itulah orang yang ber’EQ tinggi bisa “memanfaatkan” apa yang dia rasakan, maupun dirasakan oleh orang lain.

Contoh, jika kita tahu bahwa satu-satunya cara untuk membuat seseorang keluar dari sebuah ruangan adalah dengan “memanfaatkan” rasa takut dia, maka jika kita memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) tinggi, kita akan mampu “membaca” apa titik-titik ketakutan orang itu dan melakukan hal-hal yang menakutkan untuk membuat dia bergerak keluar (mencapai kondisi akhir produktif).

.

BAGAIMANA DENGAN AHOK?

Nah, jika dirangkum dengan sederhana, 3 indikator umum orang yang memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) tinggi adalah memiliki kesadaran (awareness) terhadap diri-sendiri dan orang lain, kemudian mampu mengelola dan memanfaatkannya untuk mencapai hasil akhir yang produktif (menurut dia).

Lalu bagaimana dengan Ahok? Apakah Ahok melakukan 3 hal yang “cerdas emosi” tersebut?

Mari kita tilik satu-persatu. Apakah ketika Ahok marah-marah dan bertindak “agresif”, dia melakukannya masih dalam kondisi aware? Atau itu hasil luapan emosi yang tak terkontrol?

Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang masih dalam kondisi aware? Orang itu sadar apa konsekuensi tindakannya dan SIAP MENERIMA konsekuensinya. Jadi, EQ bukan berbicara pada “marah-marahnya”, tetapi lebih kepada “ketika dia marah, apakah dia MEMUTUSKAN dengan sadar untuk marah dan tahu apa akibatnya serta siap menanggung akibat tersebut”?

Menurut Anda, apakah Ahok melakukan semua yang dia tunjukkan selama ini dengan SADAR dan memang MEMILIH untuk bertindak demikian? Menurut Anda, apakah Ahok sudah menghitung semua konsekuensi-konsekuensinya dan siap menanggung konsekuensi itu? Menurut Anda, apakah Ahok “hilang sesaat”, khilaf, tak terkontrol, dan menyesali apa yang dia lakukan kemudian? Silahkan Anda menilainya sendiri dari kacamata pengamatan Anda dan kemudian memutuskan di bagian awareness ini apakah dia memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) yang baik atau tidak.

Lalu yang berikutnya,

Dari sisi Menggunakan emosi untuk hasil akhir yang produktif, menurut Anda, apakah Ahok dengan sadar MEMUTUSKAN untuk menjadi agresif dan “menekan” agar dia bisa mencapai hasil akhir yang menurut dia produktif? Menurut Anda, apakah tindakan represif dan frontalnya itu lahir dari sebuah “strategi” yang memang dia pilih, atau sekedar ledakan emosi sesaat yang tak bisa ia kendalikan dan muncul tanpa bisa dia kontrol?

Menurut Anda, apakah yang dia lakukan selama ini adalah “in purpose” atau hanya sekedar sebuah nature dan habit yang mengendalikan dia?

Bahkan, lebih ekstrim lagi, pemilihan kata-kata (yang bagi sebagian orang seharusnya tak pantas diucapkan oleh orang sekaliber “leader” seperti Ahok) yang dia pilih, menurut Anda, itu memang dengan SADAR dia putuskan untuk diucapkan atau sekedar lahir dari reaksi otomatisnya ketika dia sedang emosional?

Sekali lagi, dari kacamata pengamatan Anda sendiri, silahkan Anda menentukan apakah Ahok memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) yang tinggi atau malah jongkok?

.

JADI, AHOK CERDAS EMOSI ATAU TIDAK?

Sejak awal, saya memang tidak ingin menjawab pertanyaan ini melalui artikel yang saya tulis. Saya hanya ingin memaparkan definisi Kecerdasan Emosi (EQ) yang sesungguhnya dan membiarkan Anda menilai sendiri, sesungguhnya apakah Ahok memang cerdas emosi? Atau dia hanyalah seorang monster emosional? Silahkan Anda tentukan sendiri.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang EQ, silahkan membaca ini.

.

JOSUA IWAN WAHYUDI
Master Trainer EQ Indonesia
@josuawahyudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *